Hari Penentuan! Data PDB Dirilis Saat Dolar Ngamuk, Bisakah Rupiah Bertahan?
Perilisan PDB Indonesia Q3 2025 sebesar 4,95% yang melambat dirilis di tengah tekanan Dolar AS yang menguat mendekati Rp16.700. Bisakah Rupiah bertahan?
Jakarta, JClarity – Pasar keuangan domestik dan global menahan napas pada hari penentuan ini, menyusul dirilisnya data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Kuartal III 2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Rilis data ini terjadi di tengah menguatnya Dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali menekan nilai tukar Rupiah ke level kritis.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 tercatat sebesar 4,95% secara tahunan (YoY). Angka ini sedikit melambat dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya, 5,05% YoY, dan berada di bawah ekspektasi konsensus pasar yang memproyeksikan pertumbuhan di kisaran 5,0% hingga 5,06%. Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa meskipun melambat, pertumbuhan 4,95% ini tetap positif dan didukung oleh kinerja sektor utama.
Namun, sinyal positif dari fundamental domestik ini harus berhadapan dengan badai global yang dipimpin oleh Greenback. Indeks Dolar AS (DXY) kembali perkasa, didorong oleh kebijakan moneter 'higher-for-longer' oleh Federal Reserve (The Fed) di tengah data ekonomi AS yang menunjukkan ketahanan. Penguatan Dolar ini telah memicu arus modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang dan membuat nilai tukar Rupiah (IDR) tertekan, menembus level psikologis dan mendekati Rp16.700 per Dolar AS pada perdagangan hari ini.
Dari sisi pengeluaran PDB, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan, menyumbang sebesar 4,91%, meskipun sedikit melambat dibandingkan kuartal II 2025. Sementara itu, investasi tetap (PMTB) menunjukkan peningkatan, namun laju ekspor melambat dan ekspor neto memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan. Perlambatan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk mencari sumber pertumbuhan baru di tengah tantangan global, terutama penurunan permintaan dari mitra dagang utama.
Di tengah tekanan mata uang yang kian brutal, fokus kini tertuju pada kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi yang terukur, didukung oleh cadangan devisa yang memadai dan kinerja neraca perdagangan yang masih surplus. Gubernur BI sebelumnya menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas kurs di tengah ketidakpastian global dan kenaikan suku bunga obligasi AS yang tidak terduga.
Para analis pasar berpendapat bahwa meskipun data PDB menunjukkan fundamental yang solid, Rupiah mungkin hanya akan menguat sesaat. Risiko pelemahan berkelanjutan tetap tinggi selama The Fed mempertahankan sikap hawkish mereka. Skenario terburuk yang sempat diproyeksikan, yakni Rupiah menembus Rp17.000 per Dolar AS, akan semakin mendekati kenyataan jika sentimen risiko global terus memburuk dan intervensi BI tidak cukup kuat. Pertarungan Rupiah melawan Dolar AS pada hari penentuan ini menjadi cerminan nyata dari dilema kebijakan ekonomi global: menyeimbangkan pertumbuhan domestik dengan stabilitas keuangan di tengah gejolak moneter dunia.