Hari Guru 2025: AI Hadir sebagai Tantangan dan Mitra Baru Pendidikan Indonesia
Hari Guru Nasional 2025 menandai pergeseran fokus pendidikan di Indonesia. AI hadir sebagai tantangan baru dalam kesenjangan digital dan mitra dalam personalisasi pembelajaran.
Jakarta, JClarity – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November 2025 menjadi momentum refleksi kritis bagi ekosistem pendidikan Indonesia. Jika di tahun-tahun sebelumnya tantangan berkisar pada disparitas infrastruktur dan kesejahteraan guru, kini fokus perdebatan telah bergeser pada integrasi dan dampak masif dari Kecerdasan Buatan (AI) di ruang kelas. AI hadir tidak hanya sebagai alat baru, melainkan sebagai tantangan mendasar dan mitra potensial yang mendefinisikan ulang peran guru.
Urgensi adopsi teknologi ini terasa semakin mendesak di tengah persaingan global, namun implementasinya dihadapkan pada dua kutub realitas di Indonesia. Di satu sisi, AI menjanjikan personalisasi pembelajaran, asisten pengoreksian tugas, dan akses tak terbatas pada sumber daya global, yang dapat membebaskan guru dari tugas administratif rutin. Di sisi lain, muncul tantangan serius terkait kesenjangan digital (digital divide) antara sekolah perkotaan dan pedesaan, serta kebutuhan mendesak akan pelatihan (upskilling) bagi jutaan guru agar mampu bertransformasi dari pengajar konvensional menjadi fasilitator teknologi.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam beberapa kesempatan telah menekankan bahwa Kurikulum Merdeka harus mampu menginkorporasi keterampilan masa depan, di mana literasi data dan AI menjadi fundamental. Namun, kekhawatiran etis turut membayangi. Potensi plagiarisme yang disokong AI generatif, hilangnya integritas akademik siswa, hingga risiko data privasi menjadi PR besar yang harus diatasi melalui kerangka regulasi yang jelas dan etika penggunaan yang ketat.
Kepala Pusat Inovasi Pendidikan (PIP) mengatakan, sinergi antara guru dan AI adalah kunci. AI seharusnya dipandang sebagai 'co-pilot' yang mengoptimalkan efisiensi dan analisis data siswa, memungkinkan guru untuk kembali fokus pada aspek krusial yang unik manusiawi: pembentukan karakter, pengembangan keterampilan berpikir kritis, dan kecerdasan emosional. Peran guru bergeser dari penyampai ilmu menjadi desainer pengalaman belajar yang kontekstual dan empatik.
Momentum Hari Guru 2025 ini harus dimaknai sebagai titik tolak untuk investasi masif dalam pengembangan profesional berkelanjutan, khususnya pada pedagogi berbasis teknologi. Keberhasilan transformasi pendidikan Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang diadopsi, melainkan seberapa siap dan terampil para pendidik bangsa dalam memanfaatkan AI secara bijaksana, adil, dan beretika demi mencetak generasi emas di masa depan.