Pendidikan

Hari Guru 2025: AI Hadir sebagai Tantangan dan Mitra Baru di Ruang Kelas Indonesia

Hari Guru Nasional 2025 disorot AI yang menjadi mitra baru sekaligus tantangan. Kurikulum AI 2025 menuntut guru adaptif hadapi literasi digital dan kesenjangan infrastruktur.

JAKARTA · Monday, 24 November 2025 09:00 WITA · Dibaca: 22
Hari Guru 2025: AI Hadir sebagai Tantangan dan Mitra Baru di Ruang Kelas Indonesia

JAKARTA, JClarity – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November 2025 menandai sebuah babak baru dalam sejarah pendidikan Indonesia. Jika tahun-tahun sebelumnya perayaan didominasi isu kesejahteraan dan pemerataan, HGN kali ini diselimuti diskursus tentang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian masif masuk ke ruang-ruang kelas sebagai tantangan sekaligus mitra baru bagi para pendidik. Dengan tema besar Kemendikdasmen "Guru Hebat, Indonesia Kuat," momentum ini menjadi ajang refleksi nasional terhadap kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI demi mencetak Generasi Emas 2045.

Integrasi AI dalam kurikulum pendidikan Indonesia, yang mulai diterapkan secara resmi pada 2025, menjadi pilar utama perubahan. Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan, menetapkan AI sebagai mata pelajaran pilihan atau bagian dari mata pelajaran lain, bertujuan membekali siswa dengan keterampilan digital, berpikir kritis, dan kemampuan pemecahan masalah sejak dini. Bagi guru, AI menjanjikan transformasi pembelajaran yang lebih personal, memungkinkan materi disesuaikan dengan kemampuan dan gaya belajar individu siswa, serta memfasilitasi umpan balik otomatis dan analisis data pembelajaran secara real-time.

Namun, di balik peluang tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menemukan beberapa tantangan yang perlu segera diatasi. Sebuah penelitian yang melibatkan guru di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa meskipun mayoritas guru sudah familiar dan aktif menggunakan AI untuk menyusun materi ajar dan mencari metode mengajar yang inovatif, kemampuan mereka untuk memodifikasi dan mengontekstualisasi konten AI masih terbatas. AI sering kali diperlakukan hanya sebagai "pemberi jawaban" alih-alih alat untuk mendesain pembelajaran yang kontekstual.

Tantangan terbesar lainnya terletak pada isu kesiapan infrastruktur dan literasi digital. Kesenjangan digital yang nyata antara wilayah perkotaan dan pedesaan, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal), dikhawatirkan akan memperparah ketidaksetaraan akses pendidikan terhadap teknologi AI. Selain itu, rendahnya kesadaran guru akan risiko misinformation atau informasi tidak akurat yang dihasilkan AI juga menjadi aspek mengkhawatirkan. Minimnya pelatihan formal dan ketiadaan panduan operasional dari sekolah turut memperlambat adopsi AI yang bertanggung jawab.

Pemerintah dan berbagai pihak menanggapi tantangan ini dengan strategi bertahap dan berfokus pada penguatan kompetensi guru. Pelatihan berkelanjutan, terutama yang berfokus pada literasi digital dan etika AI, menjadi krusial agar guru dapat menavigasi teknologi canggih tanpa kehilangan esensi pengajaran. Menteri Komunikasi dan Digital, misalnya, menekankan bahwa Indonesia membutuhkan jutaan talenta digital dan telah mengadopsi Panduan Etika AI UNESCO untuk memastikan pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab. Pada akhirnya, peran guru tidak tergantikan, melainkan berevolusi: dari sumber utama informasi menjadi fasilitator, pembimbing moralitas, dan penanam karakter yang berhadapan langsung, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh algoritma AI.

Login IG