Harga Emas Melonjak 2% dalam Semalam, Siapa Bandar Besar di Baliknya?
Emas global melonjak 2,39% tembus US$4.000/oz. Analisis j-clarity.com menyoroti aksi beli masif Bank Sentral dan Hedge Fund akibat ketidakpastian geopolitik dan sinyal The Fed.
JAKARTA, JClarity – Harga emas dunia mencatat lonjakan tajam yang signifikan, melesat lebih dari 2% dalam semalam dan berhasil menembus kembali level psikologis US$4.000 per troy ounce. Kenaikan drastis ini, yang terjadi pada sesi perdagangan terakhir, segera memicu spekulasi di kalangan analis dan investor mengenai identitas “Bandar Besar” atau pemain institusional utama yang berada di balik aksi beli masif tersebut.
Data pasar mencatat bahwa harga emas spot ditutup menguat hingga 2,39% menuju level US$4.024,49 per ons troi, menghapus seluruh pelemahan yang terjadi di hari-hari sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik global, namun fokus utama sorotan ditujukan pada dua entitas: Bank Sentral Global dan Dana Lindung Nilai (Hedge Funds) besar.
Analisis menunjukkan bahwa pembeli terbesar yang secara konsisten menyerap pasokan emas dunia adalah Bank Sentral dari berbagai negara. Aksi borong emas oleh bank sentral, khususnya dari negara-negara emerging market seperti Tiongkok, Polandia, dan India, tercatat meningkat signifikan, bahkan menjadi pendorong harga yang lebih berpengaruh dibandingkan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) emas. Pembelian ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk melakukan diversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada Dolar AS (de-dolarisasi), sekaligus sebagai aset pelindung nilai (safe haven) di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global.
Selain aksi beli oleh otoritas moneter, sentimen pasar turut diperkuat oleh isyarat dari Federal Reserve (The Fed) AS yang mengindikasikan potensi pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga lanjutan. Harapan akan suku bunga AS yang lebih rendah melemahkan Dolar AS, yang secara historis menguntungkan harga emas. Sementara itu, keraguan investor terhadap hasil kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok juga mendorong investor institusional untuk kembali mencari aset aman. Managing Partner CPM Group, Jeffrey Christian, menilai bahwa optimisme pasar cepat memudar setelah rincian kesepakatan dagang dinilai ‘dangkal’, menyebabkan investor berbondong-bondong kembali ke emas.
Melihat momentum ini, para analis memperkirakan reli harga emas masih akan berlanjut. Beberapa pakar komoditas bahkan tidak terkejut jika harga emas dapat mencapai US$4.500 per ons dalam waktu dekat, didorong oleh ketidakpastian politik dan ekonomi yang sedang berlangsung. Fenomena lonjakan harga global ini juga turut berdampak pada harga emas domestik di Indonesia, dengan harga emas Antam (Logam Mulia) terpantau melesat tajam, sejalan dengan kenaikan di pasar internasional.