Harga Emas Hancur Lebur! Ambruk 5% Sehari, Rekor Terburuk 5 Tahun.
Harga emas ambruk 5% sehari, mencetak rekor terburuk dalam 5 tahun terakhir. Kenaikan yield obligasi AS dan kebijakan The Fed menjadi pemicu utama keruntuhan logam mulia.
JAKARTA, JClarity – Harga emas global mengalami kehancuran drastis pada sesi perdagangan terbaru, mencatat penurunan tajam hingga 5% dalam sehari. Anjloknya harga logam mulia ini membawa patokan harga emas dunia (spot gold) terperosok ke level terendah dalam beberapa tahun, sekaligus menandai kinerja harian terburuk sejak krisis pasar global sekitar lima tahun silam, memicu kekhawatiran serius di kalangan investor.
Data dari pasar komoditas menunjukkan, harga emas berjangka di divisi Comex New York anjlok dari level penutupan di atas US$1.900 per ons troy menjadi mendekati US$1.805 per ons troy dalam waktu kurang dari 24 jam. Keruntuhan dramatis ini dipicu oleh pergeseran fundamental yang sangat agresif di pasar keuangan global, terutama dari Amerika Serikat.
Pemicu utama dari ambruknya harga emas adalah sikap 'hawkish' yang semakin menguat dari Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Pernyataan yang mengindikasikan percepatan pengetatan kebijakan moneter, termasuk kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan, telah memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun ke level yang tidak terlihat dalam satu dekade terakhir. Kenaikan yield obligasi membuat aset yang tidak memberikan bunga seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan investasi berpendapatan tetap.
Selain itu, penguatan signifikan pada Indeks Dolar AS (DXY) juga memberikan tekanan berat. Dolar AS yang perkasa membuat harga emas, yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, yang pada gilirannya mengurangi permintaan global. Investor secara masif memindahkan modal dari aset safe-haven tradisional seperti emas ke Dolar AS dan instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Analis pasar dari Gold Dynamics Capital, Mira Santika, menyebut kejadian ini sebagai 'pembersihan pasar yang brutal'. "Penurunan 5% dalam sehari adalah sinyal likuidasi besar-besaran. Ini bukan hanya aksi ambil untung biasa, tetapi didorong oleh ketakutan bahwa era suku bunga ultra-rendah benar-benar telah berakhir," ujarnya. Mira menambahkan bahwa level support kritis berikutnya berada di sekitar US$1.780, dan jika level tersebut ditembus, potensi kerugian lebih lanjut akan terbuka.
Di pasar domestik, harga emas fisik Antam diperkirakan akan mengikuti tren global, meskipun dengan penyesuaian yang mungkin tidak persis 5% karena faktor nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Namun, investor lokal diimbau untuk bersikap hati-hati mengingat volatilitas ekstrem yang terjadi dan potensi koreksi harga di masa mendatang apabila tekanan dari The Fed tidak mereda.