Harga Bitcoin Tembus Rp 2 Miliar, Apa Pendorongnya?
Harga Bitcoin (BTC) tembus Rp2 miliar didorong serbuan modal ETF institusional, sinyal pelonggaran The Fed, dan dukungan regulasi pro-kripto dari pemerintah AS.
JAKARTA, JClarity – Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan sejarah baru dengan menembus level harga psikologis Rp2 miliar per keping. Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah optimisme pasar global yang didorong oleh kombinasi kuat antara adopsi institusional, sinyal pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, dan perkembangan regulasi yang positif.
Berdasarkan data pasar terkini (4/10), harga Bitcoin bergerak di atas ambang batas Rp2 miliar, menyusul reli yang telah berlangsung selama beberapa waktu. Kenaikan spektakuler ini, yang sempat membawa BTC mencapai puncak sekitar US$123.218 (setara kurang lebih Rp2 miliar dengan kurs saat ini), menegaskan posisi Bitcoin sebagai aset utama yang semakin dipercaya oleh investor kelas kakap.
Para analis sepakat bahwa ada tiga faktor utama yang menjadi katalis pendorong rekor harga terbaru ini. Pertama, serbuan modal institusional melalui produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin dan Ethereum. Sejak diluncurkan, ETF-ETF yang diterbitkan oleh manajer aset raksasa seperti BlackRock dan Fidelity telah mencatat arus masuk (net inflow) yang masif, dengan total kumulatif mencapai puluhan miliar dolar sepanjang tahun 2025. Aliran dana yang deras ini memberikan legitimasi dan daya beli yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar kripto.
Kedua, adanya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed). Pernyataan bernada dovish dari para pejabat The Fed yang membuka peluang pemangkasan suku bunga di tengah tren penurunan inflasi AS, meningkatkan minat investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin. Dalam konteks ekonomi global, Bitcoin juga semakin dianggap sebagai aset lindung nilai (store of value) yang efektif terhadap potensi pelemahan dolar AS dan kekhawatiran inflasi akibat kebijakan fiskal ekspansif.
Ketiga, sentimen positif yang berasal dari dukungan regulasi di Amerika Serikat. Kongres AS diketahui sedang aktif membahas sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) penting, seperti GENIUS Act (tentang stablecoin) dan CLARITY Act (tentang regulasi pasar), yang bertujuan memberikan kejelasan hukum. Selain itu, dukungan terang-terangan dari Presiden Donald Trump, termasuk niat untuk membentuk cadangan strategis BTC dan mengizinkan investasi dana pensiun (401k) ke dalam aset kripto, telah memperkuat kepercayaan investor dan memperluas jangkauan pasar Bitcoin secara signifikan.
Selain faktor fundamental tersebut, para trader juga mencatat adanya dorongan teknikal, yakni penembusan level resistensi penting yang memicu aksi short squeeze, mendorong harga melambung lebih tinggi dalam waktu singkat. Dengan kondisi pasar yang didominasi oleh optimisme, para analis memproyeksikan bahwa Bitcoin masih memiliki ruang untuk kenaikan lanjutan, bahkan memprediksi target harga yang lebih tinggi dalam siklus pasar berikutnya.