Gempa Bumi Ternyata Bisa Bentuk Bongkahan Emas dalam Hitungan Detik
Penelitian terbaru ungkap gempa bumi memicu bongkahan emas di urat kuarsa dalam hitungan detik melalui piezoelectricity. Penemuan penting bagi geologi dan tambang emas.
JAKARTA, JClarity – Sebuah penemuan ilmiah yang mengejutkan telah mengubah pemahaman geologi tentang bagaimana bongkahan emas raksasa terbentuk di kerak bumi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki peran krusial, bahkan mampu memicu pembentukan endapan emas yang signifikan di dalam urat kuarsa hanya dalam hitungan detik. Temuan ini tidak hanya memecahkan misteri geologis yang telah berlangsung puluhan tahun, tetapi juga menambah perspektif baru terhadap potensi sumber daya mineral di zona-zona tektonik aktif seperti Indonesia.
Studi terperinci yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka, *Nature Geoscience*, mengungkap bahwa proses cepat pembentukan emas ini dipicu oleh fenomena **piezoelektrisitas** pada mineral kuarsa. Tim ilmuwan dari Monash University, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), dan Australian Centre for Neutron Scattering (ANSTO) menemukan bahwa ketika kuarsa, mineral paling melimpah kedua di kerak bumi, mengalami tekanan atau terpelintir akibat getaran gempa, ia secara spontan menghasilkan muatan listrik.
Selama ini, teori umum menjelaskan bahwa emas diangkut oleh fluida hidrotermal panas yang mengalir melalui rekahan batuan. Namun, konsentrasi emas terlarut yang sangat kecil dalam fluida tersebut tidak sepenuhnya dapat menjelaskan bagaimana bongkahan emas yang sangat besar dapat terakumulasi. Penelitian terbaru ini menambahkan mekanisme elektrokimia.
Menurut Profesor Andy Tomkins dari Monash University, muatan listrik yang timbul dari kuarsa yang tertekan—bertindak layaknya ‘baterai alami’—mendorong ion emas terlarut yang terbawa oleh fluida panas untuk mengambil elektron dan dengan cepat bertransformasi menjadi logam padat. Proses pengendapan (presipitasi) ini terjadi langsung di permukaan kuarsa atau, yang paling menarik, di sekitar butiran emas yang sudah ada sebelumnya.
Para peneliti mensimulasikan kondisi gempa di laboratorium dengan menempatkan potongan kuarsa ke dalam larutan emas terlarut dan memberikan tekanan mekanis. Pengamatan mikroskopis membuktikan bahwa endapan emas berupa gugusan nanopartikel dan kristal kecil terbentuk seketika. Akumulasi emas ini cenderung menempel pada emas yang sudah ada, sebuah proses yang berulang dengan setiap peristiwa seismik, yang menjelaskan mengapa bongkahan emas orogenik—jenis endapan emas terbesar di dunia—banyak ditemukan di urat kuarsa zona gempa.
Penemuan ini memiliki implikasi besar bagi industri pertambangan global, termasuk di Indonesia yang merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik dan kaya akan deposit emas. Dengan memahami peran gempa bumi sebagai katalis elektrokimia, ahli geologi kini memiliki model yang lebih akurat untuk memprediksi dan memetakan lokasi potensial bongkahan emas raksasa.