Gempa Bumi Ternyata Bisa Bentuk Bongkahan Emas dalam Hitungan Detik
Studi terbaru mengungkap gempa bumi memicu pembentukan bongkahan emas raksasa dalam detik berkat efek Piezoelektrisitas pada kuarsa. Proses ini relevan di zona seismik aktif.
JAKARTA, JClarity – Fenomena alam yang mengerikan, gempa bumi, ternyata menyimpan rahasia geologis yang luar biasa: kemampuannya membentuk bongkahan emas dalam rentang waktu yang sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan detik. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai asal-usul deposit emas orogenik raksasa yang banyak ditemukan di urat kuarsa zona patahan aktif di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang merupakan salah satu kawasan seismik paling aktif.
Studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience oleh tim peneliti dari Monash University, CSIRO, dan Australian Centre for Neutron Scattering (ANSTO) berhasil mengungkap mekanisme elektrokimia di balik proses pembentukan emas yang sangat cepat ini. Para ilmuwan memecahkan misteri lama tentang bagaimana konsentrasi emas yang biasanya sangat rendah dalam fluida hidrotermal di bawah tanah dapat mengendap menjadi bongkahan besar atau nugget di dalam urat kuarsa.
Mekanisme kuncinya adalah piezoelektrisitas. Kuarsa, mineral paling melimpah kedua di kerak bumi, memiliki sifat piezoelektrik—kemampuan untuk menghasilkan muatan listrik sesaat ketika kristalnya mengalami tekanan atau 'dipelintir' oleh gelombang seismik gempa bumi. Tegangan listrik yang dihasilkan ini lantas berfungsi sebagai 'baterai alami' di zona patahan. Muatan listrik tersebut menarik ion emas terlarut dari fluida hidrotermal untuk mengambil elektron dan berubah menjadi logam padat (emas) yang mengendap langsung di permukaan kuarsa. Eksperimen menunjukkan bahwa endapan emas baru ini cenderung tumbuh di sekitar butiran emas yang sudah ada, mempercepat pembentukan bongkahan emas yang besar.
Temuan ini menambah detail pada hipotesis terdahulu yang juga mendukung kecepatan pengendapan emas. Pada tahun 2013, penelitian lain mengemukakan konsep 'vaporisasi kilat' (flash vaporization). Proses ini terjadi ketika gempa bumi membuka retakan atau rongga di kerak bumi, menyebabkan fluida super-panas yang membawa emas terlarut mengalami penurunan tekanan secara mendadak. Penurunan tekanan seketika ini menyebabkan fluida tersebut menguap secara eksplosif, memaksa emas dan silika untuk mengendap dan memadat secara instan—bisa dalam sepersepuluh detik—di sepanjang dinding rekahan.
Indonesia, dengan jalur subduksi dan patahan aktifnya, merupakan daerah yang ideal untuk terjadinya fenomena geologis ini. Saat wilayah-wilayah seperti Laut Banda dan Halmahera baru-baru ini diguncang gempa magnitudo 6,0 dan 5,4, serta aktivitas seismik vulkanik di Gunung Semeru terus berlangsung, studi ini menjadi semakin relevan. Pemahaman mendalam mengenai peran gempa bumi dalam menumbuhkan emas memberikan petunjuk penting bagi ahli geologi dalam strategi eksplorasi emas, dengan fokus pada zona-zona patahan di mana kuarsa dan fluida kaya mineral bertemu dengan aktivitas seismik yang berulang.