Gempa Bumi Ternyata Bisa Bentuk Bongkahan Emas dalam Hitungan Detik.
Studi terbaru mengungkap gempa bumi memicu bongkahan emas terbentuk dalam hitungan detik di urat kuarsa melalui mekanisme piezoelektrik, memecahkan misteri geologi.
JAKARTA, JClarity – Pembentukan deposit emas berukuran besar diyakini merupakan proses geologis yang memakan waktu ribuan hingga jutaan tahun. Namun, misteri terbentuknya bongkahan emas raksasa (nugget) dalam urat kuarsa (quartz veins) kini mulai terpecahkan dengan sebuah temuan ilmiah yang mengejutkan: gempa bumi ternyata mampu memicu pengendapan emas dalam hitungan detik.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh tim ilmuwan dari Monash University, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), dan Australian Centre for Neutron Scattering (ANSTO) ini mengubah pemahaman geologi tradisional. Selama ini, teori umum berpendapat bahwa emas dibawa oleh fluida panas (hidrotermal) yang perlahan mengalir melalui retakan batuan. Akan tetapi, teori tersebut kesulitan menjelaskan bagaimana konsentrasi emas yang sangat rendah dalam cairan (<1 ppm) bisa membentuk bongkahan besar yang mewakili hingga 75% dari semua emas yang pernah ditambang.
Para peneliti menguji sebuah hipotesis baru yang berpusat pada fenomena yang disebut *piezoelectricity*. Kuarsa—mineral paling melimpah kedua di kerak bumi—dikenal sebagai material piezoelektrik, yang berarti ia menghasilkan muatan listrik ketika dikenai tekanan mekanis, seperti yang terjadi selama gempa bumi.
Dalam simulasi laboratorium, tim menempatkan potongan kuarsa ke dalam larutan yang mengandung emas terlarut dan menerapkan tekanan mekanis untuk meniru gelombang seismik. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan geologis yang timbul akibat gempa mampu menghasilkan tegangan listrik yang cukup besar pada kuarsa. Muatan listrik ini secara elektrokimia mendorong ion emas yang terlarut untuk mengambil elektron, mengubahnya menjadi logam padat, dan mengendap langsung ke permukaan kuarsa.
Profesor Andy Tomkins dari Monash University School of Earth, Atmosphere and Environment, salah satu penulis studi tersebut, menyatakan bahwa hasilnya sangat menakjubkan. Pengamatan mikroskopis memperlihatkan emas mengendap sebagai titik-titik terang dan kristal kecil dalam waktu yang sangat singkat. Menariknya, emas ini cenderung mengendap pada butiran emas yang sudah ada, menjadikan butiran emas tersebut sebagai “elektroda” atau katalis yang menarik lebih banyak emas, sehingga membantu menjelaskan mengapa bongkahan emas bisa tumbuh menjadi ukuran raksasa.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal *Nature Geoscience* ini menegaskan hubungan erat antara aktivitas seismik dan pembentukan deposit emas orogenik. Meskipun fluida panas masih memainkan peran utama, stres listrik dari gempa bumi membantu memfokuskan pertumbuhan emas secara cepat pada titik-titik tertentu, membuktikan bahwa bongkahan emas besar dapat terbentuk melalui siklus peristiwa seismik berulang-ulang, menjadikannya misteri geologi yang kini terselesaikan dalam perspektif waktu yang jauh lebih cepat.