Sains

Fenomena Astronomi Equinox Minus Hari Tanpa Bayangan Terjadi Hari Ini

Hari ini, 29 September 2025, fenomena Hari Tanpa Bayangan terjadi di sejumlah kota di Indonesia pasca Ekuinoks. Mamuju menjadi salah satu wilayah yang mengalaminya.

JAKARTA · Tuesday, 30 September 2025 04:00 WITA · Dibaca: 47
Fenomena Astronomi Equinox Minus Hari Tanpa Bayangan Terjadi Hari Ini

JAKARTA, JClarity – Serangkaian fenomena astronomi penting yang diawali dengan Ekuinoks September kini memasuki fase puncaknya di Indonesia. Meskipun Ekuinoks telah berlalu, dampak pergerakan semu Matahari membawa pada Fenomena Kulminasi Utama atau yang populer disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan (HTB), yang terjadi di beberapa wilayah hari ini, Senin (29/9/2025).

Ekuinoks Musim Gugur (Autumnal Equinox) sendiri tercatat telah terjadi pada 22 September 2025. Peristiwa ini menandai momen ketika Matahari tepat berada di atas garis Khatulistiwa, menyebabkan durasi siang dan malam di berbagai belahan Bumi menjadi hampir seimbang. Setelah momen Ekuinoks ini, Matahari terus bergerak ke selatan, melintasi garis lintang berbagai kota di Indonesia, memicu terjadinya Hari Tanpa Bayangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Fenomena Kulminasi Utama ini berlangsung di Indonesia dalam periode panjang dari 7 September hingga 21 Oktober 2025. Peristiwa yang terjadi dua kali dalam setahun ini adalah momen ketika posisi Matahari berada pada titik zenit, atau tepat di atas kepala pengamat.

Khusus pada hari ini, 29 September 2025, kota **Mamuju**, Sulawesi Barat, menjadi salah satu ibu kota provinsi yang mengalami Hari Tanpa Bayangan dengan waktu puncak Kulminasi terjadi sekitar pukul 11.54.48 WITA. Sementara itu, beberapa kota di Kalimantan dan Sumatera, seperti Palangka Raya dan Pangkal Pinang, telah mengalami fenomena serupa sehari sebelumnya, sejalan dengan pergerakan Matahari ke arah selatan.

Secara ilmiah, saat Matahari mencapai titik kulminasi utama, bayangan benda tegak akan tampak "menghilang" sejenak karena bayangan tersebut bertumpuk sempurna dengan benda itu sendiri. Meskipun sering dikaitkan dengan peningkatan suhu ekstrem, BMKG menjelaskan bahwa peningkatan suhu yang dirasakan di masa ini lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor cuaca harian dan kondisi atmosfer, bukan semata-mata oleh fenomena kulminasi. Masyarakat diimbau untuk tidak khawatir karena fenomena ini adalah siklus alamiah dan tidak menimbulkan dampak bencana.

Gelombang Kulminasi Utama akan terus berlanjut ke wilayah yang lebih selatan, dengan Palembang (30 September 2025), Bengkulu (2 Oktober 2025), dan Jakarta (8 Oktober 2025) menjadi kota-kota besar selanjutnya yang akan merasakan sensasi "Hari Tanpa Bayangan" tersebut.

Login IG