Sains

Fenomena Astronomi Equinox Minus Hari Tanpa Bayangan Hari Ini

Equinox September terjadi hari ini, menandai durasi siang-malam yang sama. Namun, Hari Tanpa Bayangan di sebagian besar wilayah Indonesia tidak terjadi serentak.

Jakarta · Tuesday, 30 September 2025 05:00 WITA · Dibaca: 30
Fenomena Astronomi Equinox Minus Hari Tanpa Bayangan Hari Ini

Jakarta, JClarity – Fenomena astronomi penting, Ekuinoks Musim Gugur (Equinox September), mencapai puncaknya hari ini, menandai momen ketika Matahari secara tepat melintasi garis khatulistiwa. Peristiwa ini secara global menyebabkan durasi siang dan malam yang hampir sama. Namun, bagi sebagian besar wilayah di Indonesia, fenomena yang sering dikaitkan dengannya—Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama—tidak terjadi secara bersamaan, menegaskan bahwa keduanya adalah peristiwa terpisah.

Ekuinoks adalah titik dalam orbit Bumi ketika kemiringan aksial Bumi tidak miring ke arah Matahari maupun menjauhinya. Secara harfiah, 'equinox' berarti 'malam yang sama', merujuk pada pembagian waktu 12 jam siang dan 12 jam malam. Untuk belahan bumi utara, ini menandai dimulainya musim gugur, sementara di belahan bumi selatan, ini menjadi penanda awal musim semi. Peristiwa ini adalah siklus tahunan yang terjadi dua kali setahun—Ekuinoks Maret (Vernal) dan Ekuinoks September (Musim Gugur).

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berulang kali mengklarifikasi bahwa Equinox tidak berhubungan langsung dengan peningkatan suhu ekstrem atau radiasi berbahaya, melainkan hanya penanda posisi Matahari relatif terhadap Bumi. Klaim yang beredar mengenai potensi bahaya akibat Ekuinoks adalah misinformasi. Suhu panas yang mungkin dirasakan di beberapa wilayah lebih disebabkan oleh faktor cuaca dan kondisi atmosfer lokal.

Adapun 'Hari Tanpa Bayangan' atau Kulminasi Utama, merupakan fenomena yang terjadi ketika Matahari tepat berada di titik zenit, atau persis di atas kepala pengamat. Fenomena ini hanya dialami oleh lokasi-lokasi yang berada di antara Garis Balik Utara (Tropic of Cancer) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn). Walaupun Matahari berada di atas khatulistiwa saat Ekuinoks, Hari Tanpa Bayangan adalah peristiwa lokal yang tanggalnya bervariasi bergantung pada garis lintang suatu kota.

Misalnya, kota-kota yang tidak tepat berada di khatulistiwa, seperti Jakarta, akan mengalami Hari Tanpa Bayangan mereka sendiri beberapa hari setelah Ekuinoks September, seiring pergerakan semu harian Matahari ke selatan. Oleh karena itu, frasa 'Equinox Minus Hari Tanpa Bayangan' menjadi relevan hari ini, menegaskan bahwa fenomena global Ekuinoks sedang berlangsung, tetapi fenomena lokal Hari Tanpa Bayangan belum mencapai puncaknya di banyak wilayah. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi resmi dari lembaga terkait untuk mengetahui tanggal pasti Kulminasi Utama di daerah masing-masing.

Login IG