Era Hoaks AI dan Deepfake, Guru Besar: Pendidikan Etika Digital Harus Dimulai Sejak Dini.
Guru Besar menyoroti bahaya hoaks AI dan deepfake yang merusak integritas informasi. Solusinya: Pendidikan etika digital dan literasi kritis harus dimulai sejak usia dini. (152 karakter)
Jakarta, JClarity – Perkembangan pesat teknologi Kecerdasan Buatan (AI) membawa ancaman serius terhadap integritas informasi di ruang digital. Maraknya produksi hoaks dan konten deepfake yang dihasilkan AI kini menjadi tantangan global, mendorong akademisi di Indonesia menyerukan tindakan pencegahan yang fundamental: penguatan pendidikan etika digital sejak usia dini.
Prof. Dr. Budi Santoso, Guru Besar Bidang Teknologi Informasi dari Universitas Indonesia (UI), menyoroti bahwa teknologi AI generatif telah secara drastis menurunkan biaya dan tingkat kesulitan dalam memproduksi manipulasi digital yang meyakinkan. Menurutnya, konten palsu berbasis video, audio, dan teks kini bisa dibuat oleh siapa saja dengan perangkat sederhana, menciptakan gelombang disinformasi yang masif dan cepat menyebar. Fenomena ini, kata Prof. Budi, berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi, media, bahkan antar individu.
“Tingkat kecanggihan deepfake saat ini sudah sampai pada titik di mana mata telanjang atau telinga biasa kesulitan membedakan mana yang asli dan mana yang hasil rekayasa AI. Ini bukan lagi hanya ancaman politis atau finansial, tetapi ancaman terhadap fondasi realitas sosial kita,” ujar Prof. Budi dalam sebuah diskusi virtual, menekankan urgensi masalah ini yang relevan dengan konteks sosial dan politik Indonesia saat ini.
Menanggapi situasi tersebut, solusi yang ditawarkan adalah investasi besar dalam pendidikan. Prof. Budi menegaskan bahwa kurikulum etika digital tidak boleh hanya berfokus pada bahaya cyberbullying atau keamanan data pribadi semata. Lebih dari itu, pendidikan ini harus mencakup literasi kritis, yaitu melatih anak-anak dan remaja untuk secara skeptis menganalisis sumber informasi, memahami prinsip dasar cara kerja algoritma AI, dan membekali mereka dengan alat untuk memverifikasi keaslian konten.
Ia mengusulkan agar pemerintah dan institusi pendidikan mengintegrasikan modul literasi kritis dan etika digital mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD). Dengan fondasi yang kuat, diharapkan generasi muda tidak hanya menjadi konsumen teknologi pasif, tetapi juga pengguna yang cerdas, bertanggung jawab, dan memiliki kemampuan untuk menyaring disinformasi di tengah gempuran konten buatan AI. Tanpa langkah ini, ia memperingatkan, upaya penanganan hoaks hanya akan bersifat reaktif dan tidak efektif dalam jangka panjang.