Keuangan

Drama Shutdown AS Memuncak Hari Ini, Ekonomi RI Siap Kena Getahnya?

Shutdown terlama AS di ambang akhir. Rupiah berpotensi menguat, namun ekspor RI dan pasar keuangan global masih waspada terhadap dampak domino. Analisis lengkap.

JAKARTA · Wednesday, 12 November 2025 08:00 WITA · Dibaca: 39
Drama Shutdown AS Memuncak Hari Ini, Ekonomi RI Siap Kena Getahnya?

JAKARTA, JClarity – Drama penutupan operasional sebagian pemerintah federal Amerika Serikat (AS) atau government shutdown mencapai puncaknya hari ini, seiring dengan optimisme pasar global terhadap potensi berakhirnya krisis anggaran terlama dalam sejarah AS tersebut. Setelah berlangsung lebih dari 40 hari, shutdown ini telah menimbulkan kerugian ekonomi yang masif di Negeri Paman Sam, sekaligus memicu kewaspadaan tinggi di pasar keuangan dan sektor riil Indonesia.

Situasi terbaru di Washington D.C. menunjukkan sinyal positif setelah Senat AS menyetujui langkah awal kompromi bipartisan untuk memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026. Perkembangan ini, meskipun belum final dan masih menanti persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dan tanda tangan Presiden Donald Trump, telah memicu 'relief rally' di pasar aset berisiko. Namun, drama politik ini telah mencetak rekor baru dan diperkirakan telah membebani Produk Domestik Bruto (PDB) AS dengan kerugian yang sangat besar, mencapai sekitar US$55 miliar, atau bahkan US$90 miliar selama periode penutupan, mengikis pertumbuhan ekonomi normal hampir satu bulan.

Bagi Indonesia, 'getah' dari ketidakpastian AS terasa langsung. Walaupun Rupiah (IDR) pagi ini diperkirakan berpotensi menguat didorong sentimen 'risk-on' dari harapan berakhirnya shutdown, volatilitas di pasar keuangan tetap menjadi ancaman. Analis memperkirakan Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.600 - Rp16.700 per Dolar AS seiring meredanya ketidakpastian. Sebelumnya, ketidakpastian ini telah menyebabkan investor global beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas.

Secara fundamental, dampak terburuk shutdown yang berkepanjangan terletak pada sektor perdagangan. Penutupan pemerintahan AS dipastikan mengurangi permintaan domestik AS, yang berpotensi langsung menekan ekspor Indonesia. Produk-produk Indonesia yang paling rentan adalah dari sektor tekstil, garmen, alas kaki (footwear), dan elektronik, yang sangat bergantung pada pasar AS.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) menyoroti bahwa ketidakpastian global akibat shutdown dapat memicu perubahan kebijakan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed). Setiap perubahan kebijakan moneter The Fed akan langsung terasa pada pasar keuangan global, yang berpotensi menimbulkan gejolak volatilitas di negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun dampak shutdown sejauh ini dinilai masih bersifat sementara dan administratif, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, sebelumnya memperingatkan bahwa durasi yang terlalu lama dapat menimbulkan efek domino yang lebih parah pada pasar global, termasuk Indonesia.

Kesepakatan untuk mengakhiri shutdown akan sangat krusial, tidak hanya untuk memulihkan gaji 2,1 juta pegawai federal yang terdampak dan layanan publik AS, tetapi juga untuk memungkinkan rilis kembali data-data ekonomi vital AS yang selama ini tertahan. Rilis data-data ini sangat dibutuhkan investor untuk mendapatkan kejelasan mengenai kesehatan pasar tenaga kerja dan perekonomian AS secara keseluruhan, sebelum keputusan suku bunga The Fed bulan depan. Oleh karena itu, seluruh mata pasar kini tertuju pada Washington, menantikan persetujuan akhir yang akan menentukan apakah ekonomi RI benar-benar terhindar dari 'getah' terburuk krisis anggaran AS.

Login IG