Sains

Dosen Unair Ungkap Temuan Mikroplastik di Air Ketuban, Darah dan Urine Manusia

Peneliti Unair, Dr. Lestari Sudaryanti, menemukan mikroplastik di 100% sampel air ketuban ibu hamil, darah, dan urine, didominasi phthalates. Ini ancaman serius bagi janin dan kesehatan hormonal.

SURABAYA · Wednesday, 03 December 2025 11:00 WITA · Dibaca: 27
Dosen Unair Ungkap Temuan Mikroplastik di Air Ketuban, Darah dan Urine Manusia

SURABAYA, JClarity – Sebuah temuan mengkhawatirkan diumumkan oleh akademisi Universitas Airlangga (Unair) yang mengungkap bahwa mikroplastik telah mengontaminasi cairan vital manusia, termasuk air ketuban ibu hamil, darah, dan urine. Temuan ini menyoroti seriusnya ancaman pencemaran plastik terhadap kesehatan, bahkan pada lingkungan yang paling dilindungi dalam tubuh manusia.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Lestari Sudaryanti dr M Kes, dosen dari Fakultas Kedokteran Unair, dilakukan di wilayah Gresik, Jawa Timur. Dari total 48 sampel air ketuban ibu hamil yang diteliti di sejumlah puskesmas dan rumah sakit, seluruhnya (100%) dinyatakan positif mengandung mikroplastik. Sampel darah dan urine juga diuji, termasuk dari pekerja pemilah sampah, yang hasilnya turut menunjukkan adanya partikel plastik berukuran mikroskopis tersebut.

Analisis awal menunjukkan bahwa jenis mikroplastik yang paling dominan ditemukan adalah golongan phthalates, suatu senyawa kimia yang banyak terdapat pada plastik lentur dan produk sekali pakai. Selain itu, mikroplastik tersebut membawa serta berbagai senyawa berbahaya lainnya seperti naphthalene, fluorine, pyrene, styrene, serta logam berat seperti kadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr), dan nikel. Logam berat ini diketahui melekat pada plastik sebagai stabilisator.

Dr. Lestari menjelaskan bahwa temuan mikroplastik dalam air ketuban menimbulkan kekhawatiran besar terhadap janin karena bayi mengonsumsi cairan tersebut. Secara teoritis, paparan mikroplastik dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi, serta mengganggu metabolisme hormon. Ia menegaskan, plastik bersifat estrogenik, yang berisiko memicu penyakit-penyakit terkait hormon seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).

Lebih lanjut, Lestari memaparkan bahwa partikel mikroplastik mampu menyebar secara sistemik melalui darah dan berpotensi mencapai organ vital, bahkan menembus sawar otak. Pada sistem pernapasan, mikroplastik juga bisa terdeposit di alveoli, yang berdampak pada gangguan pernapasan seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Hingga saat ini, proses identifikasi lengkap jenis mikroplastik pada sampel darah dan urine masih dilakukan melalui kolaborasi dengan NGO Wonjin dari Korea Selatan.

Meskipun sebagian besar bayi yang air ketubannya positif mikroplastik lahir dalam kondisi normal, peneliti menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, termasuk uji coba pada hewan, untuk memahami dampak biologis dan jangka panjang secara spesifik. Masyarakat disarankan untuk meminimalkan paparan plastik dan meningkatkan konsumsi makanan berserat serta antioksidan untuk mengurangi dampak stres oksidatif di dalam tubuh.

Login IG