Dosen Unair Ungkap Temuan Mikroplastik di Air Ketuban, Darah, dan Urine Manusia
Dosen Unair Dr. Lestari Sudaryanti temukan mikroplastik pada air ketuban 48 ibu hamil, darah, dan urine manusia di Gresik. Analisis dominan temukan phthalates.
SURABAYA, JClarity – Kenyataan yang mengkhawatirkan kembali terungkap dari dunia kesehatan dan lingkungan. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Dr. Lestari Sudaryanti dr., M.Kes., dalam penelitian terbarunya di Gresik, Jawa Timur, menemukan adanya kontaminasi mikroplastik tidak hanya pada pekerja pemilah sampah, tetapi juga pada air ketuban ibu hamil, darah, dan urine manusia.
Dr. Lestari Sudaryanti menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama mengambil sampel dari pekerja pemilah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngitik, Bawean, dan Wringinanom. Sementara, penelitian kedua berfokus pada sampel biologis manusia, yakni air ketuban ibu hamil, yang diambil dari puskesmas dan rumah sakit di Gresik.
Hasil temuan ini mengejutkan, di mana total 48 sampel air ketuban yang dianalisis **semuanya positif mengandung mikroplastik**. Selain itu, partikel tak kasat mata berukuran kurang dari 5 milimeter tersebut juga terdeteksi dalam darah dan urine, dengan jumlah partikel bervariasi per mililiter sampel.
“Untuk air ketuban itu, total sampel sekitar 48 dan semuanya positif mengandung mikroplastik,” ungkap Dr. Lestari. Ia menambahkan, temuan ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik telah menyebar luas secara sistemik dalam tubuh manusia.
Analisis awal menunjukkan bahwa jenis mikroplastik yang paling dominan ditemukan adalah dari golongan **phthalates**, senyawa yang sering digunakan dalam plastik fleksibel, terutama plastik sekali pakai. Selain phthalates, analisis awal juga mengidentifikasi keberadaan senyawa kimia lain seperti naphthalene, fluorine, pyrene, dan styrene, serta logam berat seperti kadmium (Cd), timbal, krom (Cr), dan nikel. Logam berat ini diketahui dapat melekat pada plastik sebagai bahan penstabil.
Dr. Lestari mengingatkan bahwa temuan mikroplastik dalam air ketuban mengindikasikan adanya risiko kesehatan pada janin, meskipun sebagian bayi yang memiliki air ketuban positif mikroplastik terlahir normal. "Bayi itu makan air ketuban. Jadi pasti ada impact-nya," tegasnya, sambil menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak biologis spesifik.
Secara umum, paparan mikroplastik dalam tubuh manusia berpotensi memicu stres oksidatif dan inflamasi, yang kemudian dapat mengganggu metabolisme tubuh, termasuk hormon. Plastik bersifat estrogenik, sehingga berisiko terhadap penyakit-penyakit yang terkait estrogen, seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Jalur masuk mikroplastik ke tubuh dapat melalui inhalasi, oral, maupun kulit.
Guna meminimalkan risiko, Dr. Lestari menyarankan masyarakat, terutama ibu hamil, untuk lebih berhati-hati dan mulai mengurangi paparan plastik. Mengonsumsi makanan berserat dan kaya antioksidan juga disarankan untuk membantu mengurangi dampak di dalam tubuh.