Sains

Deforestasi Bukan Sekadar Penyebab Banjir: Ia Pemanas Bumi yang Kita Biarkan Menyala.

Deforestasi bukan hanya pemicu banjir dan longsor lokal. Secara faktual, deforestasi adalah pendorong utama pemanasan global. Simak data terbaru dan langkah FOLU Net Sink 2030.

JAKARTA · Wednesday, 10 December 2025 16:00 WITA · Dibaca: 44
Deforestasi Bukan Sekadar Penyebab Banjir: Ia Pemanas Bumi yang Kita Biarkan Menyala.

JAKARTA, JClarity – Opini publik kerap mengaitkan deforestasi—penebangan hutan secara masif—sebagai biang keladi bencana lokal, seperti banjir bandang dan tanah longsor yang kian intens melanda beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Namun, perspektif ini terlalu sempit. Secara fundamental, deforestasi adalah 'pemanas bumi' global yang kita biarkan terus beroperasi, melemahkan upaya mitigasi krisis iklim dunia.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa laju deforestasi neto di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 175,4 ribu hektare. Angka ini merupakan hasil dari deforestasi bruto 216,2 ribu hektare dikurangi reforestasi. Sementara itu, lembaga lain mencatat angka deforestasi bruto yang lebih tinggi, menyoroti fakta bahwa sebagian besar kehilangan hutan saat ini terjadi secara 'legal' di dalam konsesi yang dialokasikan, terutama untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit, industri kayu, dan pertambangan. Tekanan terbesar terus terjadi di pulau-pulau dengan tutupan hutan besar, seperti Kalimantan dan Sumatra.

Peran hutan sebagai 'paru-paru dunia' telah lama dipahami. Pohon menyerap Karbon Dioksida ($\text{CO}_2$), gas rumah kaca utama, dan menyimpannya dalam biomassa. Ketika hutan ditebang atau dibakar, karbon yang tersimpan dilepaskan kembali ke atmosfer. Pelepasan $\text{CO}_2$ inilah yang secara langsung memperparah efek rumah kaca dan mendorong pemanasan global (radiative forcing). Diperkirakan deforestasi global menyumbang sekitar 10-15% dari total emisi gas rumah kaca dunia.

Lebih dari sekadar penyimpanan karbon, hilangnya hutan juga merusak mekanisme pendingin alami bumi. Hutan hujan berperan krusial dalam siklus air, melepaskan uap air melalui evapotranspirasi yang membentuk awan dan menciptakan efek pendinginan. Ketika ekosistem ini hancur, pola cuaca berubah drastis, memicu kekeringan yang lebih panjang di satu musim dan limpasan permukaan yang ekstrem saat musim hujan, yang manifestasi nyatanya adalah banjir dan longsor. Dengan kata lain, deforestasi adalah penghalang ganda: ia melepaskan gas panas sambil menonaktifkan AC alami planet ini.

Menyadari peran krusial ini, Pemerintah Indonesia telah menetapkan program ambisius: Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Kebijakan ini bertujuan untuk mencapai kondisi 'net sink' di sektor kehutanan dan lahan, di mana tingkat serapan gas rumah kaca melebihi tingkat emisinya, dengan target emisi negatif sebesar 140 juta ton $\text{CO}_2$e pada tahun 2030. Program ini menjadi tulang punggung Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) Indonesia. Kunci utama pencapaian target ini terletak pada langkah-langkah strategis untuk menekan laju deforestasi dan degradasi hutan.

Oleh karena itu, tindakan untuk menghentikan deforestasi bukan lagi pilihan, melainkan mandat ekologis dan ekonomi global. Mengingat kontribusi signifikan sektor lahan terhadap target pengurangan emisi nasional, mengendalikan deforestasi adalah cara paling efektif bagi Indonesia untuk mematikan 'pemanas bumi' yang selama ini beroperasi dan memenuhi komitmennya terhadap Perjanjian Paris. Keberhasilan dalam menjaga hutan sama dengan menjaga masa depan iklim global.

Login IG