Dari 12 Segmen Megathrust di Indonesia, Mentawai dan Selat Sunda Bisa Picu Tsunami
Dua zona megathrust di Indonesia, Mentawai-Siberut dan Selat Sunda, dinilai paling berisiko picu gempa M9.0 & tsunami karena alami 'seismic gap' ratusan tahun.
PADANG, JClarity – Indonesia, yang terletak di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), memiliki 12 segmen megathrust yang mengelilingi wilayahnya. Dari belasan zona subduksi tersebut, para pakar kebencanaan nasional menggarisbawahi dua segmen yang memiliki potensi risiko tertinggi dalam memicu gempa bumi besar yang berujung tsunami dahsyat, yaitu Megathrust Mentawai-Siberut dan Megathrust Selat Sunda.
Peringatan ini kembali digaungkan dalam lokakarya kebencanaan bertajuk "Megathrust Disaster Risk Assessment in Indonesia" yang diselenggarakan di Universitas Andalas (Unand), Padang, pada akhir September 2025. Profesor di bidang Teknik Sipil dan Struktur Tahan Gempa dari Fakultas Teknik Unand, Prof. Fauzan, menyatakan bahwa kedua zona tersebut tergolong memiliki potensi yang sangat besar untuk melepaskan energi secara tiba-tiba.
Khususnya, Zona Megathrust Mentawai-Siberut dikenal oleh para ilmuwan sebagai salah satu seismic gap (celah seismik) paling berbahaya di dunia. Menurut analisis para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), zona ini menyimpan energi yang sangat besar karena belum melepaskan energi gempa secara signifikan sejak peristiwa gempa besar tahun 1797 dan 1833. Akumulasi energi tektonik selama lebih dari dua abad tersebut berpotensi memicu gempa dengan kekuatan mencapai Magnitudo (M) 9.0—kekuatan yang setara dengan gempa yang memicu tsunami Aceh pada tahun 2004.
Ancaman serupa juga datang dari Zona Megathrust Selat Sunda. Zona ini juga tercatat sebagai seismic gap karena nihil dari gempa besar sejak tahun 1757, atau sekitar 267 tahun, sehingga sangat perlu diwaspadai potensi pelepasan energinya.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam berbagai kesempatan, menegaskan bahwa pembahasan mengenai potensi gempa di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut ini adalah sebuah "peringatan" untuk meningkatkan kewaspadaan, bukan prediksi waktu kejadian. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas normal, namun dengan kesiapsiagaan mitigasi yang tinggi.
Sebagai langkah mitigasi konkret, BMKG telah memasang sejumlah sistem monitoring gempa dan peringatan dini tsunami di kedua zona tersebut. Di Selat Sunda, BMKG telah memasang 17 sensor gempa dan 22 sensor muka laut sebagai konfirmasi kejadian tsunami. Sementara itu, untuk mengantisipasi potensi di Mentawai-Siberut, dipasang 33 sensor gempa, 6 sensor muka laut, dan 5 sirine tsunami di wilayah Sumatera Barat. Selain pemasangan teknologi, penguatan mitigasi sejak dini, termasuk edukasi kepada masyarakat dan pemanfaatan fasilitas umum sebagai tempat evakuasi mandiri, dinilai menjadi kunci utama untuk menekan risiko korban jiwa (zero victim) dari potensi bencana megathrust ini.