Sains

Cahaya Misterius di Bulan: Fenomena Aneh yang Membingungkan Ilmuwan.

Fenomena Cahaya Misterius di Bulan (TLP) membingungkan ilmuwan. Artikel ini mengulas hipotesis utama: tumbukan meteoroid (LIFs) & pelepasan gas (outgassing).

Jakarta · Wednesday, 22 October 2025 03:00 WITA · Dibaca: 83
Cahaya Misterius di Bulan: Fenomena Aneh yang Membingungkan Ilmuwan.

Jakarta, JClarity – Permukaan Bulan, satelit alami Bumi yang tampak sunyi dan mati, sekali-sekali menampilkan kilatan cahaya aneh, pancaran redup, atau perubahan warna temporal yang membingungkan para astronom selama berabad-abad. Fenomena ini, yang secara ilmiah dikenal sebagai Transient Lunar Phenomena (TLP), kembali menjadi sorotan penelitian mutakhir, mengingat masih minimnya kesimpulan pasti mengenai asal-usulnya, meskipun data observasi semakin melimpah.

TLP digambarkan sebagai perubahan kecerahan singkat pada suatu area di permukaan Bulan, yang dapat berlangsung mulai dari milidetik hingga beberapa jam. Berbagai laporan historis, bahkan sejak abad ke-18, mencatat kemunculan kabut, pencerahan, atau perubahan warna menjadi kemerahan atau kebiruan di wilayah tertentu, seperti Kawah Aristarchus dan Plato. Misteri ini semakin mendesak untuk dipecahkan seiring dengan rencana misi eksplorasi Bulan di masa depan.

Hingga kini, dua hipotesis utama mendominasi upaya penjelasan TLP. Yang pertama adalah Lunar Impact Flashes (LIFs), yaitu kilatan yang disebabkan oleh tumbukan meteoroid kecil pada permukaan Bulan. Ketika sebuah batu antariksa, bahkan yang seberat bola biliar (sekitar 0,2 kilogram), menghantam, energi benturan tersebut memanaskan batuan permukaan hingga berpijar sebelum akhirnya mendingin dengan cepat, menghasilkan kilatan singkat yang dapat direkam dari Bumi. Proyek seperti Near-Earth Object Lunar Impacts and Optical Transients (NELIOTA) yang didanai oleh European Space Agency (ESA) telah berhasil mencatat ratusan kilatan tersebut, membuktikan bahwa tumbukan meteoroid adalah penyebab umum dari TLP berdurasi singkat.

Namun, fenomena TLP yang berlangsung lebih lama, seperti pencerahan yang memudar perlahan selama beberapa menit atau jam, jauh lebih sulit dijelaskan. Hipotesis kedua, yang lebih membingungkan, adalah Outgassing (pelepasan gas) dari interior Bulan. Teori ini menyebutkan bahwa tekanan gaya pasang surut (tidal stress) dari Bumi dapat memicu retakan pada kerak Bulan, sehingga melepaskan gas-gas seperti radon. Semburan gas tersebut akan mengangkat debu Bulan (regolit) yang kemudian memantulkan cahaya Matahari, menciptakan ilusi kabut atau titik terang yang terlihat dari teleskop di Bumi.

Penjelasan potensial lain mencakup efek elektrostatik di permukaan Bulan. Radiasi matahari menciptakan listrik statis pada debu regolit, yang dapat menyebabkannya melayang dan menghasilkan efek visual yang menyerupai fenomena plasma atau kilatan. Perdebatan antara meteoroid, pelepasan gas, dan fenomena elektrostatik menunjukkan betapa dinamis dan tidak sepenuhnya 'mati'-nya Bulan seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya.

Para ilmuwan terus memantau Bulan menggunakan teleskop dan sistem observasi canggih, seperti yang juga sempat dilakukan oleh astronom amatir Jepang, Daichi Fujii, yang berhasil menangkap kilatan cahaya terkait hujan meteor Geminid pada akhir 2024, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi data untuk memecahkan misteri ini. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai TLP sangat penting, tidak hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu kosmik, tetapi juga untuk menjamin keselamatan dan perencanaan misi berawak ke Bulan di masa depan.

Login IG