Cahaya Misterius di Bulan Buat Ilmuwan Penasaran
Cahaya misterius di Bulan, dikenal sebagai Transient Lunar Phenomenon (TLP), terus membingungkan ilmuwan. Fenomena singkat ini diyakini akibat hantaman meteoroid atau pelepasan gas radon dari perut Bulan. Studi terbaru 2024 menantang teori hotspot.
JAKARTA, JClarity – Fenomena 'Cahaya Misterius' yang muncul sesaat di permukaan Bulan, dikenal oleh para ilmuwan sebagai Transient Lunar Phenomenon (TLP), terus menjadi salah satu misteri terbesar yang membingungkan komunitas astronomi global. Peristiwa cahaya singkat ini, yang telah didokumentasikan selama berabad-abad, menjadi bukti bahwa satelit alami Bumi ini mungkin tidak se-statis yang diperkirakan sebelumnya, menantang pemahaman konvensional tentang geologi Bulan.
Catatan sejarah menunjukkan pengamatan TLP telah ada setidaknya sejak abad ke-18, dengan astronom terkemuka seperti William Herschel melaporkan penampakan cahaya terang yang bertahan hingga berjam-jam pada tahun 1787. Secara keseluruhan, lebih dari 3.000 insiden TLP telah didokumentasikan oleh para astronom profesional maupun amatir selama dua milenium terakhir, dalam berbagai bentuk, mulai dari kilatan cepat, bercak kemerahan atau keunguan, hingga cahaya lembut yang bertahan selama beberapa menit.
Untuk mengurai misteri ini, Badan Antariksa Eropa (ESA) meluncurkan program Near-Earth Object Lunar Impacts and Optical Transients (NELIOTA). Selama sembilan tahun, NELIOTA berhasil merekam 193 Lunar Impact Flashes (LIFs), kilatan yang sangat cepat yang diperkirakan disebabkan oleh benturan meteoroid. Awalnya, data NELIOTA mengindikasikan kilatan terkonsentrasi di beberapa titik, namun sebuah studi terbaru pada tahun 2024 yang ikut ditulis oleh peneliti utama proyek tersebut, Alexios Liakos, menunjukkan bahwa meteoroid menghantam Bulan secara merata atau homogen di seluruh permukaannya, menunjukkan pola yang terlihat sebelumnya mungkin adalah bias observasi.
Meskipun demikian, hipotesis yang menjelaskan TLP masih beragam. Kilatan super cepat umumnya dikaitkan dengan hantaman meteoroid. Sementara itu, cahaya yang berlangsung lebih lama disinyalir disebabkan oleh pelepasan gas radioaktif, seperti radon, dari bawah permukaan Bulan yang mungkin dipicu oleh gempa bulan (moonquakes). Hipotesis lain, khususnya untuk cahaya yang berdurasi berjam-jam, menyarankan bahwa angin surya mengionisasi partikel debu Bulan, mengangkatnya menjadi awan besar yang kemudian membiaskan cahaya bintang atau objek terang di sekitarnya.
Para ilmuwan menekankan bahwa TLP adalah pengingat bahwa Bulan adalah dunia yang aktif secara halus, dipengaruhi oleh tekanan internal dan dampak eksternal. Memecahkan kode fenomena transien ini kini menjadi hal yang krusial untuk memahami evolusi termal Bulan dan potensi kelaikannya untuk misi eksplorasi masa depan, termasuk program Artemis milik NASA.