Keuangan

Cadangan Devisa RI Menyusut, Menkeu Purbaya: Bukan Hal yang Perlu Dikhawatirkan

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sebut penyusutan cadangan devisa RI ke US$148,7 miliar per September 2025 bukan kekhawatiran, karena digunakan untuk stabilisasi Rupiah.

JAKARTA · Wednesday, 08 October 2025 05:00 WITA · Dibaca: 53
Cadangan Devisa RI Menyusut, Menkeu Purbaya: Bukan Hal yang Perlu Dikhawatirkan

JAKARTA, JClarity – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penurunan Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia per September 2025 bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan oleh masyarakat maupun pelaku pasar. Pernyataan ini disampaikan Purbaya merespons laporan Bank Indonesia (BI) yang mencatat penyusutan cadangan mata uang asing tersebut.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya melaporkan bahwa posisi Cadangan Devisa Indonesia pada akhir September 2025 berada di angka US$148,7 miliar. Angka ini menyusut US$2 miliar dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar US$150,7 miliar. Penurunan ini juga menandai level terendah sejak Juli 2024 dan merupakan penurunan selama tiga bulan berturut-turut.

Meskipun terjadi penurunan, Menkeu Purbaya menyatakan tidak ada kekhawatiran (concern), sebab fungsi utama cadangan devisa memang digunakan untuk stabilitas. "Enggak ada concern. Cadev kan dipakai untuk itu," ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Purbaya menekankan, penurunan cadev tersebut merupakan bantalan yang digunakan oleh pemerintah dan otoritas moneter, dalam hal ini BI, untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, ia juga menunjuk pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus menguat, menunjukkan adanya cerminan kepercayaan diri investor terhadap pasar keuangan domestik.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan posisi cadangan devisa antara lain adalah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah. Di sisi lain, ekonom juga melihat adanya tekanan dari capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik, khususnya di pasar surat utang negara (SUN), yang dipicu oleh perkembangan global dan dinamika di dalam negeri.

Meskipun menyusut, BI memastikan bahwa posisi cadangan devisa US$148,7 miliar masih sangat memadai. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang jauh berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. BI meyakini cadangan devisa ini tetap kuat untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.

Login IG