Burung Kapinis Pecahkan Misteri Sains: Terbang Nonstop 10 Bulan Tanpa Mendarat
Kapinis Biasa (Apus apus) terbukti bisa terbang 10 bulan nonstop. Penemuan monumental ini mengungkap misteri tidur saat terbang & efisiensi energi di dunia ornitologi.
JAKARTA, JClarity – Burung Kapinis Biasa (Common Swift atau Apus apus) secara definitif telah memecahkan batas-batas pemahaman mengenai fisiologi dan ketahanan hayati hewan, setelah sebuah studi monumental mengkonfirmasi kemampuannya untuk terbang tanpa henti selama sepuluh bulan penuh dalam setahun. Penemuan yang merebut rekor penerbangan tanpa gangguan terlama dari spesies burung mana pun ini, memaksa para ilmuwan untuk menilai kembali adaptasi ekstrem dalam dunia ornitologi.
Kajian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada tahun 2016 ini, dan yang terus menjadi rujukan penting, dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Lund, Swedia, di bawah pimpinan Dr. Anders Hedenström. Para peneliti melacak individu-individu Kapinis dengan memasangkan alat pencatat data mikro yang sangat ringan—hanya sekitar satu gram—ke punggung burung saat mereka bermigrasi antara Eropa dan Afrika Sub-Sahara. Data selama dua tahun pemantauan menunjukkan bahwa, selama periode non-kawin, beberapa individu Kapinis tidak pernah mendarat sama sekali, sementara yang lain menghabiskan lebih dari 99,5 persen dari 10 bulan di udara.
Dr. Hedenström menyebut fase penerbangan 10 bulan ini sebagai rekor penerbangan terlama yang diketahui dari spesies burung mana pun, sebuah bukti yang “secara signifikan mendorong batas-batas pengetahuan kita tentang fisiologi hewan.” Kapinis menghabiskan waktu di daratan hanya selama dua bulan untuk beristirahat dan melalui musim kawin, kemudian kembali mengudara, menempuh jarak jutaan kilometer sepanjang hidup mereka yang rata-rata 5,5 tahun.
Misteri besar yang menyelimuti kemampuan ini adalah bagaimana burung-burung tersebut makan, minum, dan terutama, tidur. Penelitian menunjukkan bahwa Kapinis adalah ahli dalam menangkap serangga kecil di udara saat terbang. Mereka juga diyakini dapat melakukan ‘tidur mikro’ atau tidur menggunakan setengah otak mereka, suatu kemampuan yang memungkinkan mereka untuk menghemat energi sambil tetap menjaga kesadaran dan kontrol penerbangan. Mereka sering teramati naik ke ketinggian 2–3 kilometer setiap hari saat fajar dan senja, yang diduga merupakan waktu krusial bagi mereka untuk beristirahat di tengah penerbangan.
Penemuan luar biasa mengenai ketahanan Kapinis ini sekaligus menyoroti tantangan konservasi yang mereka hadapi. Meskipun beradaptasi secara ekstrem terhadap kehidupan di udara, populasi Kapinis kini mengalami penurunan, terutama karena perubahan iklim, penggunaan pestisida yang mengurangi populasi serangga (sumber makanan utama mereka), dan hilangnya situs bersarang alami akibat modernisasi. Upaya konservasi, termasuk pemasangan kotak sarang buatan, menjadi penting untuk melestarikan “atlet ketahanan” alam yang terus terbang ini.