Sains

Bumi Berpotensi Koreksi Perubahan Iklim Secara Berlebihan, Picu Zaman Es?

Studi ilmiah terbaru bahas risiko 'overshoot' iklim. Pemanasan bisa picu AMOC collapse, sebabkan pendinginan regional di Eropa, bukan zaman es global.

Jakarta · Tuesday, 14 October 2025 16:00 WITA · Dibaca: 61
Bumi Berpotensi Koreksi Perubahan Iklim Secara Berlebihan, Picu Zaman Es?

JAKARTA, JClarity – Sebuah narasi dramatis yang mempertanyakan apakah upaya kolektif global untuk 'mengoreksi' pemanasan iklim justru berpotensi memicu pendinginan ekstrem atau bahkan zaman es baru telah muncul dalam diskusi ilmiah terkini. Meskipun premis Zaman Es (Ice Age) secara harfiah tidak menjadi fokus utama para ilmuwan, perdebatan kritis berpusat pada risiko 'lintasan berlebih suhu' (temperature overshoot) dan konsekuensi tak terduga dari intervensi iklim besar-besaran, termasuk potensi memicu pendinginan mendadak di beberapa kawasan kunci di Bumi.

Para ilmuwan iklim global, dalam beberapa laporan mutakhir, menyoroti meningkatnya kemungkinan planet ini akan 'melampaui batas' target Perjanjian Paris 1,5°C dalam waktu dekat. Skenario overshoot ini mengandaikan suhu global akan naik sementara, sebelum diupayakan kembali turun melalui teknologi ambisius seperti penarikan karbon dioksida berskala masif (Carbon Dioxide Removal/CDR). Namun, sebuah studi yang dirilis baru-baru ini memperingatkan bahwa bahkan lintasan berlebih sementara pun meningkatkan risiko memicu 'titik kritis' (tipping points) yang tidak dapat diubah.

Titik kritis yang paling mengkhawatirkan justru terkait dengan konsekuensi pemanasan, seperti kehancuran terumbu karang laut hangat dan runtuhnya Lapisan Es Antartika. Namun, ada satu titik kritis yang memiliki kaitan erat dengan potensi pendinginan mendadak: **runtuhnya Sirkulasi Pembalikan Meridional Atlantik (AMOC)**. AMOC adalah sistem arus laut vital yang membawa air hangat dari tropis ke Atlantik Utara, dan keruntuhannya - yang dipicu oleh air lelehan es yang membanjiri Samudra Atlantik - diperkirakan akan terjadi jika pemanasan global melampaui ambang batas tertentu.

Meskipun keruntuhan AMOC disebabkan oleh pemanasan, dampaknya adalah **pendinginan ekstrem** di kawasan Atlantik Utara, termasuk Eropa Barat Laut, serta gangguan besar pada sistem angin monsun di Afrika dan Asia, yang secara sensasional dapat diinterpretasikan sebagai kondisi 'mirip zaman es' di belahan bumi utara. Laporan tahun 2025 bahkan menyimpulkan bahwa keruntuhan AMOC tidak lagi dianggap sebagai peristiwa yang kecil kemungkinannya, bahkan dalam skenario emisi yang rendah.

Risiko terpisah lainnya yang berkaitan dengan 'koreksi berlebihan' adalah bahaya yang timbul dari intervensi rekayasa iklim (geoengineering), khususnya Solar Geoengineering (SRM) atau Injeksi Aerosol Stratosfer (SAI). Metode ini bertujuan mendinginkan Bumi dengan memantulkan sebagian sinar matahari, mirip efek letusan gunung berapi besar. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika program SAI yang telah berlangsung puluhan tahun dihentikan secara tiba-tiba karena alasan politik, teknis, atau bencana, planet ini akan mengalami 'kejutan terminasi' (termination shock) yang mematikan. Kejutan ini bukanlah zaman es, melainkan lonjakan suhu yang sangat cepat dalam waktu singkat, membuat ekosistem dan manusia tidak memiliki waktu adaptasi, yang dianggap sebagai salah satu risiko terbesar dari teknologi tersebut.

Kesimpulannya, perdebatan ilmiah modern tidak mengindikasikan bahwa Bumi akan secara tak sengaja memicu zaman es yang meluas, tetapi memperingatkan tentang dua risiko ekstrem. Pertama, risiko mendasar dari pemanasan yang memicu titik kritis, termasuk keruntuhan AMOC yang akan menyebabkan pendinginan regional. Kedua, risiko 'kejutan terminasi' yang memicu pemanasan ekstrem yang dipercepat akibat kegagalan teknologi koreksi iklim. Para ahli bersepakat bahwa satu-satunya jalur yang aman adalah melalui pengurangan emisi karbon secara cepat dan berkelanjutan untuk menghindari ambang batas overshoot dan titik-titik kritis secara keseluruhan.

Login IG