Bulan Purnama Bikin Susah Tidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya.
Penjelasan ilmiah di balik keluhan susah tidur saat bulan purnama. Studi menemukan adanya ritme circalunar yang memengaruhi melatonin dan mengurangi deep sleep.
JAKARTA, JClarity – Fenomena langit berupa bulan purnama selalu menarik perhatian, namun bagi sebagian orang, ia juga dikaitkan dengan malam-malam yang gelisah. Setelah Supermoon baru-baru ini pada 7 Oktober dan dengan jadwal bulan purnama berikutnya pada 5 November, kembali muncul pertanyaan: benarkah fase bulan, khususnya bulan purnama, dapat mengganggu kualitas tidur kita?
Pandangan yang menyebut bulan purnama (full moon) memengaruhi tidur ternyata bukan sekadar mitos. Sejumlah penelitian ilmiah, termasuk studi yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi seperti Current Biology, telah menemukan korelasi antara siklus bulan dan pola tidur manusia. Para ilmuwan berhipotesis bahwa fenomena ini mungkin disebabkan oleh apa yang disebut ritme sirkalunar (circalunar rhythm), sebuah jam biologis kuno yang merupakan sisa peninggalan masa prasejarah, terpisah dari jam harian sirkadian (circadian rhythm) yang diatur oleh siang dan malam.
Salah satu studi yang menarik, melibatkan subjek dari komunitas perkotaan modern hingga komunitas pedalaman tanpa akses listrik penuh, menunjukkan pola yang konsisten: durasi tidur cenderung berkurang dan waktu untuk tertidur menjadi lebih lama menjelang dan selama bulan purnama. Secara rata-rata, peserta penelitian dilaporkan tidur antara 46 hingga 58 menit lebih sedikit pada malam-malam sebelum bulan purnama tiba.
Lebih lanjut, penelitian juga mengungkap adanya penurunan kualitas tidur yang signifikan. Selama fase bulan purnama, subjek penelitian mengalami penurunan tidur nyenyak (deep sleep) hingga sekitar 30% dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tahap tidur REM (Rapid Eye Movement). Bahkan, tingkat hormon melatonin, yang berperan penting dalam memberi sinyal pada tubuh untuk bersiap tidur, juga ditemukan lebih rendah saat periode bulan purnama, meskipun subjek tidak terpapar langsung oleh cahaya bulan.
Para ahli berspekulasi bahwa ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap gangguan tidur ini. Selain adanya ritme sirkalunar internal, pantulan cahaya matahari oleh bulan yang paling terang saat fase purnama (meskipun tidak disadari) dapat memengaruhi sistem saraf pusat yang mengatur pelepasan hormon. Spekulasi lain menyebutkan adanya sedikit peningkatan efek gravitasi saat bulan purnama, yang dapat mengganggu ritme alami tubuh, mengingat sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air.
Meskipun demikian, ada pula penelitian yang menyimpulkan bahwa perbedaan durasi tidur yang disebabkan oleh bulan purnama—seperti sekitar 5 menit lebih sedikit pada anak-anak—dianggap tidak terlalu signifikan dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Namun, temuan-temuan ini memberikan bukti kuat bahwa siklus bulan, terlepas dari apakah kita sadar atau tidak, masih memiliki pengaruh halus terhadap biologi tidur manusia, menjadikannya bidang studi yang misterius sekaligus menarik bagi para peneliti.