Bulan Purnama 7 Oktober 2025 Termasuk Fenomena Langka, Kok Bisa?
Bulan Purnama 7 Oktober 2025 adalah Supermoon pertama tahun ini sekaligus Harvest Moon, membuatnya terlihat 14% lebih besar dan 30% lebih terang. Fenomena langka karena tanggal kemunculannya.
JAKARTA, JClarity – Fenomena langit yang menarik perhatian akan terjadi di atas langit Indonesia hari ini, Selasa (7/10/2025), dengan kemunculan Bulan Purnama yang dikategorikan sebagai fenomena langka. Bulan purnama kali ini tidak sekadar peristiwa kosmik biasa, melainkan gabungan dari dua kondisi istimewa: Supermoon dan Harvest Moon, yang menjadikannya Supermoon pertama di tahun 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa puncak fase bulan purnama perige atau yang dikenal sebagai Supermoon akan terjadi pada 7 Oktober 2025, sekitar pukul 10.47 WIB. Fenomena ini tergolong langka karena Bulan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi, yang dalam istilah astronomi disebut perigee. Akibatnya, tampilan Bulan Purnama di malam hari nanti akan terlihat hingga 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang jika dibandingkan dengan Bulan Purnama pada jarak terjauh (apogee).
Selain status Supermoon, Bulan Purnama Oktober 2025 ini juga menyandang julukan “Harvest Moon” atau Bulan Panen. Penetapan nama ini didasarkan pada tradisi kuno di Belahan Bumi Utara yang merujuk pada bulan purnama terdekat dengan titik ekuinoks musim gugur (sekitar 22-23 September). Meskipun Harvest Moon seringkali jatuh pada bulan September, pada tahun 2025 ini, Purnama Oktober-lah yang ditetapkan secara astronomis karena waktu kemunculannya yang paling dekat dengan momen peralihan musim tersebut.
Kekhususan Bulan Purnama ini terletak pada waktunya yang sangat jarang. Sebagaimana dilaporkan, kemunculan Harvest Moon pada tanggal 7 Oktober ini merupakan tanggal paling akhir sejak fenomena serupa terakhir kali terjadi pada tahun 1987. Selain itu, Supermoon kali ini adalah yang pertama muncul setelah hampir setahun terakhir, tepatnya sejak November 2024. Peristiwa ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian tiga Supermoon beruntun yang akan berlanjut pada bulan November (Beaver Moon) dan Desember 2025.
Masyarakat Indonesia dapat mengamati keindahan Harvest Supermoon ini sejak Bulan terbit di ufuk timur setelah Matahari terbenam pada malam hari ini. Meskipun puncak perige terjadi pagi hari, efek visual Supermoon akan terlihat jelas pada malam hari. Para penikmat langit diimbau untuk mencari lokasi dengan pandangan langit yang cerah dan minim polusi cahaya agar dapat menyaksikan pemandangan yang spektakuler ini secara maksimal.
Meskipun Supermoon adalah tontonan yang memukau, BMKG juga mengingatkan adanya potensi dampak lain. Fenomena Bulan Purnama dan Bulan Baru secara rutin memengaruhi pasang surut air laut, dan Supermoon dapat memperkuat dampaknya. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi peningkatan pasang air laut atau banjir rob.