Keuangan

Bos BI Ungkap Penyebab Lambatnya Penurunan Bunga Kredit: 'Special Rate' hingga Beban Operasional Bank

Gubernur BI mengungkap dua faktor utama lambatnya transmisi penurunan BI Rate ke bunga kredit: praktik 'special rate' deposito dan tingginya beban operasional perbankan. (149 karakter)

Jakarta · Thursday, 20 November 2025 13:00 WITA · Dibaca: 31
Bos BI Ungkap Penyebab Lambatnya Penurunan Bunga Kredit: 'Special Rate' hingga Beban Operasional Bank

Jakarta, JClarity – Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkapkan dua faktor utama yang menjadi penghambat lambatnya transmisi penurunan suku bunga kebijakan moneter (BI Rate) ke suku bunga kredit perbankan. Fenomena ini, menurut BI, disebabkan oleh tingginya penawaran 'special rate' deposito oleh bank serta beban operasional yang masih kaku (rigid).

Pernyataan ini muncul di tengah harapan pasar agar penurunan suku bunga acuan BI segera diikuti oleh penurunan biaya pinjaman bagi dunia usaha dan rumah tangga, guna mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Bos BI, dalam kesempatan terpisah, menjelaskan bahwa kebijakan moneter yang telah stabil seharusnya memberikan ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit.

Faktor pertama, praktik 'special rate' deposito, merujuk pada kompetisi bank dalam memperebutkan dana pihak ketiga (DPK) dengan menawarkan bunga di atas rata-rata pasar untuk dana-dana besar dan khusus. "Special rate ini membuat biaya dana bank (Cost of Funds/CoF) tetap tinggi, sehingga sulit bagi mereka untuk menurunkan bunga kredit," ujar pejabat BI tersebut. Kondisi ini terutama terjadi pada kelompok bank yang memiliki kebutuhan likuiditas mendesak atau yang ingin menjaga komposisi DPK mereka.

Faktor kedua adalah tingginya Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Meskipun efisiensi telah didorong, biaya-biaya non-bunga, seperti beban teknologi, biaya kantor cabang, dan gaji pegawai, masih menjadi kontributor signifikan. Beban operasional yang kaku ini memberikan 'lantai' (floor) yang tinggi bagi penetapan suku bunga kredit. Bank perlu memastikan margin keuntungan yang memadai untuk menutupi risiko dan biaya overhead yang tidak elastis terhadap perubahan suku bunga acuan.

Bank Indonesia terus memantau dan mendorong perbankan untuk meningkatkan efisiensi operasional secara struktural dan mengurangi ketergantungan pada dana mahal melalui 'special rate'. Percepatan transmisi suku bunga kebijakan ke suku bunga kredit dinilai krusial untuk menjaga momentum penyaluran kredit perbankan, yang merupakan salah satu motor utama pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

Login IG