Bintang T Coronae Borealis Diprediksi Meledak dalam Letusan Termonuklir Bulan Ini.
Bintang T Coronae Borealis (T CrB), sebuah 'nova berulang', diprediksi meledak dalam letusan termonuklir yang membuatnya bersinar terang, terlihat dengan mata telanjang. Peristiwa langka 80 tahunan ini sangat diantisipasi, dengan prediksi yang semakin mendesak.
JAKARTA, JClarity – Komunitas astronomi global tengah menahan napas. Bintang variabel berulang, T Coronae Borealis (T CrB), yang dijuluki "Blaze Star" atau "Bintang Api", diprediksi akan meletus dalam sebuah ledakan termonuklir yang masif, sebuah fenomena yang akan membuatnya bersinar terang dan terlihat dengan mata telanjang. Walaupun prediksi awal menunjuk pada jangka waktu yang lebih luas di tahun 2025, para ilmuwan kini memantau dengan cermat lonjakan aktivitas, bahkan dengan tanggal spesifik seperti 10 November 2025, yang semakin mendekat, menempatkan peristiwa ini dalam jendela waktu yang sangat mendesak.
T CrB adalah sistem bintang biner, terletak sekitar 3.000 tahun cahaya di konstelasi Corona Borealis (Mahkota Utara). Sistem ini terdiri dari sebuah katai putih (white dwarf) yang padat—sisa-sisa bintang seperti Matahari—dan sebuah bintang raksasa merah (red giant). Ledakan yang dinantikan bukanlah supernova, yang merupakan kematian bintang, melainkan sebuah 'nova berulang'. Nova terjadi ketika katai putih, melalui daya tarik gravitasinya, secara perlahan 'mencuri' materi kaya hidrogen dari atmosfer bintang raksasa merah.
Materi yang terakumulasi di permukaan katai putih akan memanas hingga mencapai titik kritis. Setelah massa yang cukup terkumpul, ia akan memicu reaksi fusi nuklir tak terkendali (letusan termonuklir), menghasilkan ledakan energi besar. Peristiwa ini tidak menghancurkan katai putih, namun menyebabkan bintang tersebut bersinar hingga 1.500 kali lebih terang dari keadaan normalnya. Saat ini, T CrB berada pada magnitudo sekitar +10, yang berarti hanya dapat dilihat dengan teleskop atau teropong canggih.
Namun, selama letusan, bintang ini diperkirakan akan melonjak hingga magnitudo +2, setara dengan terangnya bintang paling terang di rasi bintang Corona Borealis, Alpha Coronae Borealis (Alphecca), dan bahkan hampir menyamai Bintang Utara (Polaris). Peristiwa ini sangat langka, terakhir kali tercatat terjadi pada tahun 1946 dan sebelumnya pada tahun 1866.
Prediksi letusan ini didukung oleh pola historis. T CrB mulai meredup sekitar bulan Maret 2023, sebuah perilaku yang juga terjadi sekitar satu tahun sebelum letusan terakhir pada tahun 1946. Meskipun para astronom berhati-hati karena sifat letusan bintang yang sulit diprediksi, berbagai model, termasuk perhitungan oleh astronom Jean Schneider dari Paris Observatory yang menyarankan tanggal 10 November 2025, menunjukkan bahwa jendela waktu untuk menyaksikan peristiwa antariksa seumur hidup ini semakin sempit. Masyarakat di belahan Bumi Utara, dan sebagian Belahan Bumi Selatan yang dapat melihat konstelasi tersebut, didorong untuk mengamati langit malam, karena fenomena ini diperkirakan hanya akan terlihat dengan mata telanjang selama beberapa hari, sebelum kembali meredup untuk 80 tahun ke depan.