BI Tahan Suku Bunga Acuan 6,25% di Akhir Tahun: Rupiah Menguat, Risiko Inflasi Terkendali.
BI memutuskan menahan BI-Rate di 4,75% di akhir 2025, menjaga stabilitas Rupiah dan menekan risiko inflasi. Rupiah menguat dan inflasi terkendali.
JAKARTA, JClarity – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya, BI-Rate, pada tingkat 4,75% pada akhir tahun, sebuah langkah yang secara efektif menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan risiko inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Keputusan ini, yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir di tahun 2025, menandai keberhasilan kebijakan BI dalam merespons tekanan eksternal sebelumnya, di mana suku bunga pernah berada di level puncak 6,25%.
Keputusan mempertahankan BI-Rate di 4,75% dalam RDG 21-22 Oktober 2025 ini sekaligus menjaga suku bunga Deposit Facility tetap di level 3,75% dan Lending Facility di 5,50%. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini konsisten dengan upaya bank sentral untuk menahan laju inflasi agar tetap terjaga rendah dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1% untuk tahun 2025 dan 2026. Langkah ini juga bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya.
Stabilitas nilai tukar Rupiah menunjukkan tren penguatan pada Oktober 2025. Penguatan ini didukung oleh konsistensi kebijakan stabilisasi yang ditempuh BI, tingkat imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, dan berlanjutnya aliran masuk modal asing (capital inflow). Selain itu, peningkatan konversi devisa hasil ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) menjadi Rupiah, sebagai implementasi dari kebijakan Pemerintah, turut menopang terkendalinya nilai tukar.
Dari sisi inflasi, risiko tekanan harga dinilai terkendali dan berada dalam batas sasaran. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2025 tercatat sebesar 2,65% (yoy), yang masih berada di dalam kisaran target BI. Inflasi inti juga tetap rendah, mencerminkan ekspektasi yang terjangkar dan terkendalinya imported inflation. Bank Indonesia meyakini inflasi hingga akhir tahun 2025 akan tetap terjaga rendah dan sesuai target.
Keputusan moneter yang pre-emptive dan forward-looking ini memungkinkan BI untuk terus mencermati ruang pelonggaran suku bunga di masa depan, sejalan dengan prospek inflasi yang terjaga dan stabilitas Rupiah yang solid. Bank sentral akan terus memperkuat bauran kebijakan (moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran) yang bersinergi dengan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah, guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang diprakirakan berada sedikit di atas batas tengah kisaran 4,6%–5,4% pada tahun 2025.