BI Jual Surat Utang! Rupiah Menguat Tajam ke Rp 15.550/USD, Efek Kejutan Intervensi 'Tangan Besi'
Rupiah menguat tajam ke Rp 15.550/USD setelah Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi moneter 'tangan besi' melalui penjualan masif surat utang/SRBI untuk menarik capital inflow.
Jakarta, JClarity – Nilai tukar Rupiah (IDR) menunjukkan performa mengejutkan pada perdagangan pasar spot hari ini, menguat tajam hingga menembus level psikologis Rp 15.550 per Dolar Amerika Serikat (USD). Penguatan signifikan ini disinyalir kuat merupakan respons langsung dan dramatis terhadap intervensi moneter 'tangan besi' yang dilakukan Bank Indonesia (BI), salah satunya melalui penjualan masif instrumen surat utang baru.
Aksi BI yang mendadak dan agresif ini telah membalikkan tren pelemahan yang sempat menghantui pasar dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, Rupiah sempat tertekan mendekati level Rp 15.700/USD, di tengah sentimen global yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve AS. Intervensi yang dikenal sebagai operasi moneter terarah ini memanfaatkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SUVBI) untuk menyerap likuiditas dan menarik masuknya arus modal asing (capital inflow) dengan imbal hasil yang menarik.
Kepala Ekonom JClarity Research, Dr. Bima Santoso, menilai langkah BI kali ini merupakan sinyal tegas kepada pasar bahwa otoritas moneter tidak akan membiarkan volatilitas berlebihan. “Penjualan surat utang dengan yield yang kompetitif ini adalah jurus pamungkas untuk memastikan Rupiah tetap pada jalurnya. Ini bukan sekadar intervensi pasar spot, melainkan upaya mendalam untuk mengelola ekspektasi dan memperkuat fundamental Rupiah melalui mekanisme pasar. Efek kejutnya berhasil,” ujarnya.
Penguatan Rupiah ini juga didukung oleh stabilnya cadangan devisa dan komitmen BI untuk melakukan intervensi ganda (di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF). Dengan Rupiah kembali ke level di bawah Rp 15.600/USD, BI memberikan kepastian bagi pelaku usaha, terutama yang terkait dengan kegiatan impor dan pembayaran utang luar negeri, sekaligus menjaga stabilitas harga domestik dari imported inflation.
Para analis memprediksi bahwa BI akan terus mempertahankan sikap moneter yang hawkish dan intervensi yang terukur selama ketidakpastian global masih berlanjut. Meskipun demikian, keberlanjutan penguatan Rupiah ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi AS, pergerakan harga komoditas global, serta konsistensi aliran modal asing masuk pasca-intervensi kejutan ini.