Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan 6,25%: Rupiah Menguat Tipis Tahan Gempuran Dolar.
BI putuskan tahan BI-Rate 6,25% di November 2025, langkah stabilisasi di tengah tekanan Dolar AS. Rupiah merespons positif dengan penguatan tipis di pasar spot.
Jakarta, JClarity – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang berakhir pada Kamis (21/11) memutuskan untuk mempertahankan Suku Bunga Acuan atau BI-Rate di level 6,25 persen. Keputusan ini konsisten dengan upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah (IDR) serta langkah pro-aktif untuk menahan dampak ketidakpastian pasar keuangan global, terutama yang berasal dari kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat.
Pengumuman kebijakan tersebut disambut dengan respons pasar yang cenderung positif. Nilai tukar Rupiah terpantau menguat tipis terhadap Dolar AS di pasar spot, menunjukkan apresiasi pasar terhadap kebijakan BI yang dinilai *prudent* dan *pre-emptive* di tengah tekanan global yang masih kuat. Rupiah ditutup pada level Rp15.850 per Dolar AS, menguat 0,05% dari penutupan hari sebelumnya.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers virtual, menegaskan bahwa penahanan suku bunga acuan adalah strategi kunci untuk mengelola *capital outflow* yang dipicu oleh tingginya imbal hasil obligasi AS. BI menilai, meskipun inflasi domestik masih terkendali di kisaran target 2,5% ± 1%, fokus utama kebijakan moneter saat ini tetap berada pada stabilitas eksternal. Keputusan ini juga bertujuan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik agar tetap kompetitif di mata investor asing.
Analis pasar dari Mandiri Sekuritas, Rina Adhitama, menyatakan bahwa tindakan BI menahan suku bunga adalah sinyal yang jelas kepada pasar bahwa bank sentral tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga hanya karena pergerakan jangka pendek Dolar AS. “Kebijakan *wait and see* BI memberikan ruang bernapas bagi pertumbuhan ekonomi yang mulai menunjukkan momentum pemulihan, sembari tetap menyediakan instrumen intervensi valas yang memadai untuk meredam volatilitas Rupiah,” ujar Rina.
Ke depan, Bank Indonesia mengisyaratkan bahwa strategi pengendalian akan lebih diintensifkan melalui intervensi di pasar valuta asing dan operasi moneter yang terstruktur untuk menjaga likuiditas. BI berkomitmen untuk terus memonitor risiko eksternal, terutama dari pergerakan suku bunga The Fed dan harga komoditas global, untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga.