**Bank Indonesia: BI-Rate Bertahan di 4,75% Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Sentimen Kenaikan Tarif Global**
BI-Rate bertahan di 4,75% dalam RDG terbaru. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah sentimen kenaikan suku bunga global.
JAKARTA, JClarity – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terbaru. Keputusan ini diambil sebagai langkah pre-emptive dan forward-looking untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah (IDR) di tengah meningkatnya sentimen kenaikan suku bunga global yang berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow).
Keputusan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% ini selaras dengan upaya Bank Sentral untuk mengendalikan inflasi inti agar tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan, sekaligus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Pertemuan RDG, yang dilaksanakan pada periode [Cantumkan periode RDG yang relevan, misalnya: 20-21 November 2025], menegaskan bahwa stabilitas Rupiah menjadi prioritas utama untuk melindungi perekonomian domestik dari dampak transmisi eksternal.
Gubernur Bank Indonesia, [Sebutkan nama Gubernur BI, saat ini Perry Warjiyo], menyatakan bahwa sentimen kenaikan tarif atau suku bunga acuan di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (The Fed), terus menjadi perhatian utama. Kenaikan suku bunga The Fed yang agresif telah mendorong penguatan Dolar AS secara signifikan, memberikan tekanan depresiasi pada mata uang global, termasuk Rupiah. Dengan menahan BI-Rate, BI berupaya menjaga daya tarik aset keuangan domestik agar tetap kompetitif.
Keputusan mempertahankan suku bunga juga didukung oleh proyeksi inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diperkirakan masih terkendali dalam target yang ditetapkan. Langkah ini dinilai cukup untuk mengelola ekspektasi inflasi, namun tetap memberikan ruang bagi pemulihan ekonomi nasional yang berkelanjutan pasca-pandemi.
Selain kebijakan suku bunga, Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar dengan intervensi ganda (intervensi pasar valuta asing dan SBN) dan koordinasi erat dengan Pemerintah untuk memastikan pasokan valuta asing tetap memadai. Bank Sentral berkomitmen untuk terus memonitor perkembangan ekonomi global dan domestik, serta siap menyesuaikan bauran kebijakan (policy mix) jika diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga.
Para analis pasar keuangan menyambut baik keputusan BI yang dianggap konservatif namun perlu di tengah tantangan global saat ini. Fokus pada stabilitas Rupiah dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor dan menekan risiko impor inflasi yang dapat membebani daya beli masyarakat. Bank Sentral juga didorong untuk terus memperkuat strategi kebijakan makroprudensialnya guna memitigasi risiko kredit dan likuiditas yang mungkin timbul dari gejolak global.