Bahlil: Rp523 Triliun Devisa Hilang Tiap Tahun Akibat Impor BBM
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Rp523 T devisa hilang per tahun akibat impor BBM dan crude. Penghematan devisa ini berpotensi dongkrak ekonomi 2-3%.
JAKARTA, JClarity – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan besarnya devisa negara yang hilang setiap tahun akibat tingginya ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurut data Kementerian ESDM, nilai devisa yang menguap mencapai angka fantastis, yakni Rp523 triliun per tahun.
Pernyataan ini disampaikan Bahlil dalam agenda Bisnis Indonesia Group (BIG) 40 Conference di Jakarta, Senin (8/12/2025). Ia menekankan bahwa jika devisa sebesar lebih dari Rp500 triliun tersebut dapat dipertahankan di dalam negeri melalui penekanan laju impor, hal itu akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Bahlil memperkirakan potensi peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai minimal 2% hingga 3% jika dana tersebut dapat diputar di dalam negeri.
Data yang dipaparkan Bahlil menunjukkan bahwa volume impor minyak nasional masih jauh melampaui produksi domestik. Sepanjang tahun 2024, produksi minyak nasional tercatat sebesar 212 juta barel, sementara volume impor mencapai 313 juta barel. Impor ini terbagi atas 112 juta barel minyak mentah dan 201 juta barel BBM. Angka impor tersebut, bersama dengan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), menjadi penyebab utama lenyapnya devisa dalam jumlah besar.
Kondisi ini semakin diperparah dengan tingginya konsumsi BBM nasional yang mencapai 532 juta barel pada tahun 2024. Sektor transportasi menjadi penyerap BBM terbesar, mencatat porsi 52% atau 276,64 juta barel. Sementara itu, sektor industri menyumbang 34% (180,88 juta barel), ketenagalistrikan 8% (42,56 juta barel), dan aviasi 6% (31,92 juta barel).
Sebagai upaya menanggulangi kondisi defisit energi dan menguatkan kedaulatan energi, pemerintah melalui Kementerian ESDM tengah menyiapkan sejumlah strategi. Strategi utama adalah peningkatan lifting (produksi siap jual) minyak dan gas dengan memanfaatkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) pada sumur-sumur tua. Selain itu, pemerintah juga berjanji akan mempercepat eksekusi wilayah kerja (WK) migas yang telah memiliki Plan of Development (POD) serta gencar melakukan lelang wilayah kerja migas baru secara masif.
Bahlil menegaskan bahwa kemandirian energi adalah instrumen krusial untuk memperkuat nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan mengurangi impor BBM dan LPG, devisa yang selama ini mengalir ke luar negeri dapat menjadi daya ungkit yang signifikan bagi perekonomian domestik.