Sains

Antivenom Generasi Baru Kalahkan Bisa dari 17 Jenis Ular Mematikan

Terobosan ilmiah: Antivenom generasi baru berbasis 'nanobody' dari Denmark efektif menetralkan bisa dari 17 jenis ular mematikan. Solusi atasi krisis gigitan ular global.

JAKARTA · Friday, 07 November 2025 07:00 WITA · Dibaca: 39
Antivenom Generasi Baru Kalahkan Bisa dari 17 Jenis Ular Mematikan

JAKARTA, JClarity – Sebuah terobosan ilmiah yang berpotensi merevolusi penanganan gigitan ular berbisa di seluruh dunia telah terwujud. Tim ilmuwan internasional berhasil mengembangkan antivenom (serum anti-bisa ular) generasi baru berjenis spektrum luas yang dalam uji laboratorium menunjukkan efektivitasnya untuk menetralkan bisa dari 17 spesies ular paling mematikan di Afrika, termasuk jenis-jenis Kobra, Mamba, dan Rinkhals.

Penemuan yang dipimpin oleh Profesor Andreas Hougaard Laustsen-Kiel dari Technical University of Denmark (DTU) ini menawarkan secercah harapan dalam mengatasi salah satu penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs) paling mematikan, yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebabkan hingga 150.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia, dengan mayoritas korban berada di wilayah pedesaan tropis Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.

Antivenom konvensional, yang telah digunakan selama lebih dari seabad, memiliki banyak keterbatasan. Umumnya, obat penawar diproduksi dengan mengekstrak antibodi dari darah hewan besar, seperti kuda, yang sebelumnya disuntikkan racun ular. Proses ini rumit, mahal, dan seringkali hanya efektif untuk satu atau beberapa spesies ular spesifik, serta berisiko memicu reaksi imun berbahaya pada manusia.

Tim peneliti DTU menggunakan pendekatan yang sepenuhnya berbeda, yaitu teknologi 'nanobody' yang dikombinasikan dengan teknologi *phage display*. Nanobody adalah fragmen antibodi yang ukurannya jauh lebih kecil dan stabil, berasal dari hewan keluarga unta seperti llama. Para ilmuwan menggabungkan delapan nanobody terpilih menjadi satu formulasi (koktail) yang mampu mengikat dan menetralkan racun dari berbagai jenis ular secara simultan.

Keunggulan utama antivenom berbasis nanobody ini adalah cakupannya yang luas, kualitas produksi yang konsisten tanpa bergantung pada hewan, potensi risiko alergi yang lebih rendah, dan kemampuannya untuk menembus jaringan lebih cepat karena ukurannya yang mini, yang juga dapat membantu mengurangi kerusakan jaringan lokal akibat gigitan. Selain itu, peneliti mengklaim antivenom ini berpotensi diproduksi dengan biaya yang lebih rendah.

Meskipun hasilnya, yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama *Nature*, sangat menjanjikan, antivenom ini masih berada pada tahap uji laboratorium. Efektivitasnya baru diuji pada tikus dan belum menjalani uji klinis pada manusia. Para peneliti juga mencatat bahwa untuk beberapa spesies, seperti Mamba Hitam dan Kobra Hutan, penetralan racunnya masih bersifat parsial, dan efektivitasnya terbatas jika pemberian ditunda terlalu lama setelah gigitan.

Pengembangan ini penting bagi Indonesia, negara dengan tingkat kasus gigitan ular yang signifikan, di mana antivenom polivalen yang tersedia saat ini umumnya hanya efektif untuk tiga jenis ular lokal (Kobra, Ular Belang, dan Ular Tanah). Upaya global menuju antivenom spektrum luas dan lebih aman sangat krusial untuk menyelamatkan ribuan nyawa di kawasan tropis.

Login IG