Ancaman Inflasi Global Mereda: Rupiah Pukul Mundur Dolar AS, Siap Rebound di Bawah Rp15.500
Dolar AS melemah tajam akibat inflasi global mereda dan sinyal dovish The Fed. Rupiah didukung surplus dagang dan inflasi terkendali, siap rebound di bawah Rp15.500.
JAKARTA, JClarity – Pelemahan tajam Dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global, didorong oleh meredanya ancaman inflasi dan sinyal pelonggaran moneter The Federal Reserve (The Fed), telah memberikan momentum emas bagi Rupiah. Nilai tukar mata uang Garuda kini menunjukkan geliat penguatan yang signifikan, berpotensi menuju level psikologis kunci di bawah Rp15.500 per Dolar AS setelah sempat tertekan di atas Rp16.700.
Hingga Kamis (2/10/2025), Indeks Dolar AS (DXY) terus loyo, mencerminkan penurunan nilai historis akibat kombinasi faktor data ekonomi AS yang mengecewakan dan gejolak politik. Data ketenagakerjaan AS yang melemah—dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,3% dan penciptaan lapangan kerja melambat—memperkuat ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. Peluang pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada bulan Oktober diperkirakan mencapai hampir 99%, dengan total pelonggaran hingga 50 basis poin (bps) hingga akhir tahun. Proyeksi ini menandai berakhirnya era suku bunga tinggi dan secara fundamental menekan daya tarik Dolar AS sebagai aset safe haven global.
Sementara tekanan eksternal mereda, faktor fundamental domestik Indonesia semakin memperkuat posisi Rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 membukukan surplus sebesar US$5,49 miliar, memperpanjang rekor surplus selama 64 bulan berturut-turut. Selain itu, inflasi domestik pada September 2025 tercatat sebesar 2,65% secara tahunan (yoy), yang dinilai masih terkendali dan berada dalam target Bank Indonesia (BI). Kondisi ini memberikan amunisi bagi Bank Indonesia untuk fokus pada stabilitas kurs, dengan komitmen untuk menggunakan seluruh instrumen intervensi yang tersedia.
Meskipun kurs Rupiah di pasar spot per 2 Oktober 2025 masih berada di kisaran Rp16.615 - Rp16.635 per Dolar AS, pergerakan greenback yang kini berada di posisi terendah dalam sepekan membuka ruang penguatan lebih lanjut bagi Rupiah. Analis pasar memperkirakan bahwa jika sentimen pelemahan Dolar AS akibat kekhawatiran government shutdown di Washington dan ekspektasi penurunan suku bunga berlanjut, Rupiah memiliki potensi besar untuk menembus dan bertahan di bawah level Rp16.000, bahkan kembali ke level yang pernah dicapai pada tahun sebelumnya di bawah Rp15.500. Proyeksi inflasi global yang diperkirakan menurun menjadi 4,3% pada tahun 2025 dan 3,6% pada tahun 2026 juga mendukung tren ini, mengurangi tekanan harga komoditas impor.
Namun, pelaku pasar tetap diimbau untuk mewaspadai sejumlah risiko, termasuk ketidakpastian politik di AS dan isu transisi pemerintahan di dalam negeri. Kejelasan mengenai arah kebijakan moneter The Fed pasca-pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) akhir bulan ini dan penyelesaian krisis fiskal di Washington akan menjadi penentu apakah Rupiah dapat mempertahankan laju rebound-nya secara konsisten menuju target Rp15.500.