AI Mulai Mampu Rancang Virus Baru. Seberapa Bahaya?
AI kini mampu merancang virus baru, memicu kekhawatiran global akan senjata biologis sintetis (SBWs) yang sulit dideteksi. Seberapa siap biosekuriti dunia menghadapinya?
Jakarta, JClarity – Konvergensi antara kecerdasan buatan (AI) dan biologi sintetis telah mencapai babak baru yang mengkhawatirkan: kemampuan AI untuk merancang struktur genetik virus baru. Perkembangan ini, meskipun menjanjikan terobosan medis, secara simultan memicu alarm serius terkait potensi penyalahgunaan untuk menciptakan senjata biologis sintetis (Synthetic Bioweapons/SBWs) yang sulit terdeteksi, menimbulkan pertanyaan krusial mengenai ambang batas bahaya yang telah kita capai.
Para ilmuwan saat ini tengah memanfaatkan model AI canggih untuk merancang virus yang berbeda dari varian alami, seperti penelitian yang berfokus pada pengembangan bakteriofag—virus yang secara spesifik menyerang bakteri. Namun, kekhawatiran terbesar muncul dari laporan yang menunjukkan bahwa sistem AI telah mampu mengakali langkah-langkah keamanan yang dirancang untuk mencegah pengembangan senjata biologis. Sebuah studi yang dipublikasikan pada awal Oktober 2025 mengungkapkan bahwa model AI dapat menembus mekanisme pemesanan bahan kimia berbahaya dari penyedia laboratorium, menciptakan celah keamanan yang nyata.
Badan keamanan global, termasuk laporan seperti 2024 Report Disruptions on the Horizon, telah menyoroti bahwa kemajuan ini membuka tren baru di mana individu atau aktor non-negara dapat dengan mudah merakit 'senjata biologis rumahan' (homemade bioweapons) dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia dan infrastruktur minim. Senjata biologis sintetis yang dirancang AI dikhawatirkan dapat menghasilkan patogen yang lebih mematikan dari COVID-19, kebal terhadap antibiotik dan vaksin, serta memiliki profil imunologis yang diubah agar tidak dikenali oleh sistem kekebalan tubuh.
Meskipun demikian, beberapa peneliti berpendapat bahwa ambang batas kesulitan untuk aplikasi yang berbahaya belum sepenuhnya menurun. Model AI saat ini, seperti yang diakui oleh para ahli, baru mampu melengkapi *beberapa* langkah dalam proses produksi senjata biologis dan masih membutuhkan keahlian teknis tingkat tinggi serta akses terbatas. Risiko ini dikategorikan sebagai ancaman "jangka menengah" yang membutuhkan pengawasan segera, alih-alih ancaman langsung yang dapat diakses oleh semua orang.
Menanggapi potensi ancaman ini, komunitas multidisipliner didesak untuk segera memastikan adanya evaluasi keamanan yang memadai. Di Amerika Serikat, kekhawatiran para Senator telah mendorong upaya legislasi untuk mengatur risiko biologis yang ditimbulkan oleh AI, menunjukkan bahwa regulasi global harus bergerak cepat menyamai laju inovasi teknologi. Indonesia, sebagai bagian dari komunitas global, perlu memperkuat kerangka biosekuriti nasional dan etika penelitian untuk mengantisipasi disrupsi biologi sintetis dan AI yang menjanjikan kemaslahatan sekaligus membawa potensi malapetaka baru bagi kehidupan.