Sains

AI Bantu Ilmuan Ciptakan Virus Pembasmi Bakteri

Ilmuwan Stanford menggunakan AI bernama Evo untuk merancang 16 bakteriofag fungsional dari awal, terobosan besar untuk terapi fage dan atasi resistensi antibiotik.

Jakarta · Thursday, 02 October 2025 14:00 WITA · Dibaca: 31
AI Bantu Ilmuan Ciptakan Virus Pembasmi Bakteri

Jakarta, JClarity – Terobosan signifikan dalam bidang biologi sintetis telah dicapai, di mana Kecerdasan Buatan (AI) berhasil digunakan untuk merancang secara generatif seluruh genom virus pembasmi bakteri, yang dikenal sebagai bakteriofag. Pencapaian ini membuka babak baru dalam perjuangan melawan infeksi yang resisten terhadap antibiotik.

Tim ilmuwan dari Universitas Stanford dan Arc Institute di Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Brian Hie, mengumumkan keberhasilan mereka dalam menggunakan model bahasa genomik (genome language model) yang dinamakan **Evo** untuk menghasilkan cetak biru genetik yang berfungsi penuh untuk bakteriofag. Model AI ini, yang dilatih menggunakan jutaan genom fage, bertugas mengusulkan kode genetik baru layaknya ChatGPT menghasilkan teks, namun dalam konteks biologi.

Dalam studi yang dipublikasikan sebagai pracetak di bioRxiv pada pertengahan September 2025, para peneliti berfokus pada varian dari fage sederhana bernama phiX174 (ΦX174) yang menyerang bakteri Escherichia coli (E. coli). AI Evo menghasilkan 302 desain genom virus. Dari desain-desain tersebut, 16 di antaranya berhasil disintesis dan diuji coba, menunjukkan kemampuan untuk mereplikasi diri dan secara efektif menghancurkan inang bakteri.

“Ini adalah kali pertama sistem AI mampu menulis sekuens skala genom yang koheren,” kata Brian Hie, ahli biologi komputasi Stanford. Beberapa dari bakteriofag yang dirancang oleh AI tersebut terbukti lebih efektif dalam membunuh bakteri E. coli dibandingkan fage alami yang menjadi modelnya. Lebih lanjut, koktail fage hasil rekayasa AI bahkan menunjukkan kemampuan superior untuk mengatasi strain E. coli yang telah resisten terhadap fage ΦX174, sebuah tantangan besar dalam terapi fage saat ini.

Penerapan teknologi ini dinilai sebagai langkah awal yang mengesankan menuju "desain generatif organisme hidup utuh" dan memiliki implikasi besar bagi terapi fage (phage therapy), sebuah pendekatan medis yang menggunakan virus untuk mengobati infeksi bakteri. Di tengah krisis resistensi antibiotik global, kemampuan AI untuk menciptakan fage yang 'dipesan' untuk menargetkan strain bakteri tertentu dengan cepat dapat merevolusi pengobatan infeksi yang sulit ditangani.

Para peneliti menekankan bahwa model AI Evo dilatih dengan mengesampingkan virus yang menginfeksi eukariota, termasuk sel manusia, sebagai bagian dari kerangka kerja keamanan biologis (biosecurity) yang ketat. Ke depan, metode ini diharapkan tidak hanya mempercepat pengembangan strategi antimikroba adaptif tetapi juga membantu dalam rekayasa sistem biologis yang lebih kompleks.

Login IG