Sains

Ahli Vulkanologi Singkap Pemicu Ribuan Gempa Bumi di Santorini

Studi terbaru di jurnal Nature mengungkap pemicu ribuan gempa di Santorini adalah intrusi magma dari gunung api bawah laut Kolumbo, mengindikasikan sistem magma terhubung.

Jakarta · Wednesday, 01 October 2025 09:00 WITA · Dibaca: 59
Ahli Vulkanologi Singkap Pemicu Ribuan Gempa Bumi di Santorini

JAKARTA, JClarity – Misteri di balik 'kawanan gempa' (seismic swarm) yang mengguncang Pulau Santorini, Yunani, pada awal tahun 2025 akhirnya terungkap. Sebuah studi vulkanologi terbaru yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Nature pada September 2025 mengonfirmasi bahwa pemicu utama ribuan gempa tersebut adalah aktivitas vulkanik yang kompleks, khususnya pergerakan intrusi magma dari gunung berapi bawah laut Kolumbo menuju bawah Pulau Santorini.

Krisis seismik yang melanda Santorini dan wilayah Cyclades Selatan di Yunani terjadi secara intensif selama sekitar satu setengah bulan, dimulai pada akhir Januari 2025. Data seismograf mencatat lebih dari 30.000 gempa bumi dalam periode tersebut, dengan kekuatan terkuat mencapai magnitudo 5.3. Intensitas guncangan ini sempat membuat banyak pihak, termasuk ilmuwan, bingung apakah penyebabnya adalah pergerakan tektonik murni atau aktivitas gunung berapi.

Penelitian yang melibatkan 31 ilmuwan dari enam negara tersebut mematahkan teori tektonik awal. Menurut studi tersebut, ribuan gempa disebabkan oleh 'sistem magma yang terhubung' antara kaldera Santorini dan Gunung Api Kolumbo. Para peneliti menemukan bahwa pada pertengahan tahun 2024, telah terjadi inflasi (pengangkatan) bertahap di kaldera Santorini, menyebabkan pulau tersebut naik beberapa sentimeter, yang menjadi indikasi awal pergerakan magma.

Proses ini memuncak pada Januari 2025 dengan adanya intrusi 'dike' (celah atau saluran yang diisi magma) yang bersumber dari reservoir kerak tengah di bawah Kolumbo. Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 0,31 kilometer kubik atau sekitar 300 juta meter kubik magma telah bergerak dan mengendap di bawah laut. Pergerakan intrusi magma inilah yang kemudian memicu reaksi berantai dan mengaktifkan kembali patahan-patahan regional, menghasilkan kawanan gempa yang masif.

Jens Carstens, seorang ahli geofisika dari GEOMAR, menekankan bahwa kolaborasi internasional dan kombinasi metode geofisika, termasuk sensor canggih dan model kecerdasan buatan, memungkinkan peneliti untuk memantau krisis seismik secara real-time. Penemuan hubungan hidrolik tersembunyi antara kedua gunung berapi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman para ahli dan memprediksi kejadian seismik di masa mendatang dengan lebih akurat.

Akibat serangkaian gempa ini, Pemerintah Yunani sempat menetapkan status darurat di Santorini pada Februari 2025. Sekolah-sekolah ditutup dan ribuan warga serta wisatawan memilih meninggalkan pulau tersebut untuk sementara waktu karena kekhawatiran akan kemungkinan gempa yang lebih besar atau letusan vulkanik.

Login IG