Afrika Robek Mau Terbelah Jadi Dua, Muncul Pulau Raksasa.
Retakan raksasa East African Rift perlahan membelah Afrika menjadi dua, diprediksi akan menciptakan pulau besar baru dan samudra. Proses ini makin cepat.
JAKARTA, JClarity – Benua Afrika kini menjadi pusat perhatian geolog dunia menyusul aktivitas tektonik luar biasa yang terjadi di wilayah timurnya, sebuah fenomena yang diprediksi akan membelah benua tersebut menjadi dua bagian dan memunculkan pulau raksasa baru di masa depan geologis planet. Proses pemisahan yang perlahan namun pasti ini disebabkan oleh retakan masif yang dikenal sebagai East African Rift System (EARS) atau Sistem Retakan Afrika Timur.
EARS membentang sepanjang kurang lebih 6.400 kilometer, membelah lempeng benua Afrika menjadi dua sub-lempeng utama: Lempeng Nubia dan Lempeng Somalia. Lempeng Nubia akan membentuk sisa benua Afrika di bagian barat, sementara Lempeng Somalia, yang mencakup Tanduk Afrika (wilayah Ethiopia timur, Somalia, Kenya, dan Tanzania), diperkirakan akan memisahkan diri dan menjadi benua mini atau 'pulau raksasa' di Samudra Hindia.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar pergeseran lempeng tektonik biasa yang saling menjauh. Studi terbaru, termasuk yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Glasgow, mengindikasikan bahwa perpecahan ini didorong oleh kekuatan tersembunyi dari 'African Superplume,' gumpalan raksasa batuan panas yang naik dari perbatasan inti-mantel Bumi. Plume ini melemahkan dan menipiskan litosfer di atasnya, seperti 'permen karamel yang ditinggalkan di dasbor,' memungkinkan kerak bumi robek ke segala arah.
Meskipun retakan ini telah diamati selama jutaan tahun, peristiwa-peristiwa dramatis seperti retakan sepanjang 60 kilometer yang terbuka tiba-tiba di Gurun Ethiopia pada tahun 2005, serta retakan besar di Kenya pada tahun 2018, menunjukkan bahwa proses ini dapat diselingi oleh kejadian yang eksplosif dan cepat. Peristiwa-peristiwa ini membuat para ahli merevisi perkiraan waktu; pemisahan penuh, yang sebelumnya diperkirakan memakan waktu puluhan juta tahun, kini mungkin terjadi dalam rentang satu hingga lima juta tahun.
Pada akhirnya, proses geologi ini akan menyebabkan air dari Laut Merah dan Teluk Aden membanjiri seluruh lembah retakan, menciptakan cekungan samudra yang baru. Formasi lautan baru ini tidak hanya akan mengubah geografi Afrika secara fundamental—misalnya, negara-negara pedalaman seperti Uganda dan Zambia berpotensi memperoleh garis pantai baru—tetapi juga dapat memicu peningkatan aktivitas gempa bumi dan gunung berapi di sepanjang zona retakan.