80 Tahun Tanpa Listrik dan Internet, Sekolah di Seram Utara Akhirnya Tersambung Dunia.
SD YPPK Manusela di Seram Utara, Maluku Tengah, yang 80 tahun terisolasi tanpa listrik dan internet, akhirnya tersambung via Starlink. Ini kisah perjuangan 3T.
MASOHI, JClarity – Setelah delapan dekade kemerdekaan Indonesia, sebuah sekolah dasar di wilayah pegunungan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, akhirnya merasakan konektivitas listrik dan internet. SD YPPK Manusela, yang berlokasi di Desa Manusela, kini resmi terhubung dengan dunia luar berkat inovasi teknologi satelit, mengakhiri isolasi informasi selama puluhan tahun.
Kisah keterpencilan sekolah yang dijuluki “negeri di atas awan” ini menyoroti tantangan pendidikan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Selama ini, guru dan siswa terpaksa menempuh perjuangan ekstrem hanya untuk urusan administrasi pendidikan. Untuk sekadar mengikuti Asesmen Nasional (AN), mereka harus berjalan kaki hingga lima hari empat malam melintasi hutan lebat, menyeberangi sungai, bahkan bermalam di tengah rimba demi mencapai sekolah di kawasan pesisir.
Yones Franky Latumutuany, salah seorang guru di SD YPPK Manusela, mengungkapkan betapa krusialnya koneksi ini. “Sebelum ada Starlink, kami buta informasi, tidak bisa akses apa pun. Baru bisa dapat informasi kalau sudah turun ke pesisir,” tuturnya, menggambarkan kondisi terputusnya mereka dari perkembangan dunia luar.
Titik balik penting ini terwujud melalui pemasangan layanan internet satelit Starlink. Inisiasi ini merupakan hasil kolaborasi dan komitmen yang kuat dari Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah bersama Dinas Pendidikan setempat. Langkah progresif ini diambil sebagai upaya nyata untuk mewujudkan pemerataan pendidikan yang bermutu dan berkualitas, menjangkau anak-anak di daerah yang belum tersentuh infrastruktur dasar.
Terhubungnya SD YPPK Manusela menjadi simbol harapan baru bahwa akses pendidikan yang setara bukan lagi sekadar mimpi bagi anak-anak di pelosok kepulauan Seram. Diharapkan, konektivitas ini tidak hanya mendukung kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga membuka jendela informasi bagi seluruh masyarakat desa, sekaligus menjadi pendorong bagi pemerintah daerah untuk terus memperluas jangkauan jaringan ke wilayah-wilayah terpencil lainnya di Maluku Tengah.