Sains

**3 Ilmuwan AS Raih Nobel Fisika 2025 Berkat Riset Revolusioner Mekanika Kuantum**

Tiga ilmuwan AS, John Clarke, Michel Devoret, dan John Martinis, raih Nobel Fisika 2025 berkat riset mekanika kuantum makroskopik yang menjadi dasar komputasi kuantum.

Jakarta · Wednesday, 08 October 2025 16:00 WITA · Dibaca: 49
**3 Ilmuwan AS Raih Nobel Fisika 2025 Berkat Riset Revolusioner Mekanika Kuantum**

Jakarta, JClarity – Hadiah Nobel Fisika 2025 dianugerahkan kepada tiga ilmuwan yang berbasis di Amerika Serikat (AS), John Clarke, Michel H. Devoret, dan John M. Martinis, atas terobosan fundamental mereka dalam riset mekanika kuantum makroskopik. Pengumuman prestisius ini disampaikan oleh Royal Swedish Academy of Sciences di Stockholm, Swedia, pada Selasa (7/10/2025), waktu setempat.

Ketiga peraih Nobel tersebut diakui "atas penemuan terobosan dalam terowongan mekanika kuantum makroskopik dan kuantisasi energi dalam sirkuit listrik." Penelitian revolusioner yang mereka lakukan pada pertengahan 1980-an ini secara eksperimental membuktikan bahwa efek mekanika kuantum—yang sebelumnya hanya dipahami pada skala subatomik—dapat diamati dan dimanfaatkan dalam objek pada skala makroskopik atau yang dapat dilihat dan dipegang.

John Clarke, Profesor Emeritus di University of California, Berkeley; Michel H. Devoret, Profesor di Yale University dan University of California, Santa Barbara; serta John M. Martinis, Profesor Emeritus di University of California, Santa Barbara, berhasil menunjukkan fenomena tersebut menggunakan sirkuit elektronik superkonduktor. Dalam eksperimen mereka, sirkuit tersebut, yang dipisahkan oleh lapisan material non-konduktif yang dikenal sebagai 'Josephson junction', mendemonstrasikan fenomena *quantum tunnelling* dan kuantisasi energi.

Ketua Komite Nobel Fisika, Olle Eriksson, menyoroti bahwa temuan ini telah "memberikan peluang untuk mengembangkan generasi berikutnya teknologi kuantum, termasuk kriptografi kuantum, komputer kuantum, dan sensor kuantum." Karya Clarke, Devoret, dan Martinis dipandang sebagai dasar bagi revolusi kuantum kedua yang saat ini sedang berlangsung, memberikan lompatan besar dalam kemampuan komputasi dan teknologi digital masa depan.

Clarke, yang lahir di Inggris namun berkarya di AS, mengungkapkan keterkejutannya saat menerima kabar tersebut. "Perasaan saya adalah saya benar-benar terkejut. Tentu saja, sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa ini bisa menjadi dasar untuk Hadiah Nobel," ujarnya dalam konferensi pers virtual. Ketiga ilmuwan akan berbagi hadiah uang tunai senilai total 11 juta krona Swedia, atau sekitar Rp 19,4 miliar.

Penelitian mereka mengubah pemahaman bahwa mekanika kuantum hanya berlaku pada partikel sangat kecil, membuktikan relevansinya dalam sistem makroskopik yang menjadi kunci bagi pengembangan teknologi praktis, dari ponsel cerdas hingga sistem keamanan data canggih.

Login IG