Saham

Wall Street Melemah, Tekanan Valuasi Saham Teknologi Kian Terasa

Wall Street ditutup melemah tajam, dipimpin anjloknya saham-saham teknologi AI akibat kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi dan lonjakan PHK AS. Nasdaq turun 1,9%.

JAKARTA · Friday, 07 November 2025 10:00 WITA · Dibaca: 49
Wall Street Melemah, Tekanan Valuasi Saham Teknologi Kian Terasa

JAKARTA, JClarity – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, ditutup melemah signifikan pada perdagangan Kamis waktu setempat (6/11/2025), terseret oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham sektor teknologi yang dinilai telah mencapai valuasi terlalu tinggi (overvalued) di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Ketiga indeks utama kompak terkoreksi, menandai tekanan yang kian terasa pada saham-saham yang sebelumnya menjadi motor reli pasar.

Indeks komposit Nasdaq, yang didominasi saham teknologi, menjadi yang paling terpuruk dengan anjlok 445,80 poin atau 1,90% ke level 23.053,99. Sementara itu, Indeks S&P 500 melemah 75,91 poin atau 1,12% menjadi 6.720,38, dan Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 397,35 poin atau 0,84% menjadi 46.913,65. Pelemahan ini turut memicu Indeks Nasdaq 100 merosot lebih dari 2% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu, mengarah pada pekan terburuk sejak awal April.

Aksi jual terpusat pada saham-saham berkapitalisasi besar yang terkait dengan Kecerdasan Buatan (AI), yang selama berbulan-bulan menjadi pendorong utama penguatan bursa. Beberapa saham raksasa AI seperti Nvidia, Microsoft, Palantir Technologies, Broadcom, dan Advanced Micro Devices (AMD) mengalami tekanan jual yang besar. Indeks Philadelphia SE Semiconductor bahkan turun 2,4%. Presiden FBB Capital Partners, Mike Mussio, mengatakan bahwa valuasi saham-saham ini telah diposisikan untuk hasil yang sempurna, namun kini pasar menunjukkan perbedaan mencolok antara perusahaan yang benar-benar unggul dan yang hanya mencatatkan pendapatan bagus dengan panduan laba yang lemah.

Selain kekhawatiran valuasi, sentimen negatif pasar diperparah oleh data pasar tenaga kerja AS yang mulai melemah. Laporan menunjukkan jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Amerika Serikat pada Oktober telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun, terutama di sektor teknologi dan pergudangan. Lonjakan PHK ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pasar tenaga kerja melemah lebih cepat dari perkiraan Federal Reserve, di saat bank sentral AS tersebut masih dihadapkan pada ketidakpastian data ekonomi resmi akibat berlanjutnya penutupan sebagian layanan pemerintah (government shutdown).

Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor barang konsumsi diskresioner mencatat penurunan terdalam sebesar 2,5%, sedangkan sektor energi menjadi satu-satunya yang mencatatkan penguatan. Meskipun pasar mengalami koreksi, Paul Nolte, penasihat kekayaan senior dan ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest, mencatat bahwa mentalitas 'beli saat harga turun' (buy the dip) masih mendominasi pasar. "Valuasi masih menjadi perhatian utama dalam jangka panjang, tetapi pasar sebenarnya masih cenderung bullish," ujar Nolte.

Login IG