Saham Pemilik Tambang Nikel dan Emas Besar Diramal Naik 61%
Analis memprediksi saham pemilik tambang nikel dan emas besar, PT Merdeka Copper Gold (MDKA), akan naik 61% didorong lonjakan EBITDA 64% di kuartal III-2025.
JAKARTA, JClarity – Saham emiten pertambangan mineral besar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), diprediksi memiliki potensi kenaikan signifikan oleh sejumlah analis. Proyeksi optimis ini datang di tengah fundamental jangka panjang perusahaan yang dinilai membaik, meskipun perseroan masih mencatatkan kerugian pada kuartal ketiga tahun 2025.
Prediksi kenaikan harga saham yang mencolok tersebut mencapai angka 61%, didukung oleh prospek kinerja MDKA ke depan yang memberikan katalis positif bagi penguatan harga sahamnya. Salah satu lembaga riset global, Citi, menjadi pihak yang menyoroti potensi penguatan ini, meskipun MDKA membukukan rugi bersih sebesar US$19 juta pada kuartal III-2025, meningkat dari US$12 juta pada kuartal sebelumnya.
Kunci dari ramalan optimis ini terletak pada peningkatan signifikan di tingkat operasional. Laporan Citi menunjukkan bahwa Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) MDKA justru melonjak sebesar 64% secara tahunan (year-on-year/yoy). Kenaikan EBITDA yang solid ini ditopang oleh kinerja yang membaik pada segmen bisnis nikel dan emas perusahaan.
Merdeka Copper Gold mengoperasikan tambang nikel dan emas melalui sejumlah anak perusahaannya. Di sektor nikel, MDKA memiliki PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), sementara di segmen emas terdapat PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Diversifikasi dan integrasi bisnis di kedua komoditas strategis ini dinilai sebagai fondasi kuat untuk pertumbuhan nilai saham di masa mendatang, terlepas dari penurunan pendapatan MDKA sebesar 23% per September 2025 akibat tidak adanya penjualan nikel matte.
Meskipun rugi bersih MDKA pada periode yang sama mencapai US$35 juta—di bawah proyeksi Citi dan konsensus analis—capaian EBITDA perusahaan tetap memenuhi target. Hal ini mengindikasikan bahwa perbaikan mendasar dalam efisiensi dan operasional bisnis inti, terutama dari sisi komoditas strategis, mulai memberikan dampak positif yang diyakini akan mendorong harga saham menuju target yang lebih tinggi.