Saham

**Saham Pemilik Tambang Nikel dan Emas Besar Diramal Naik 61%, Intip Proyeksi Kinerja MDKA**

Proyeksi saham MDKA diramal naik 61% didorong beroperasinya Proyek Emas Pani dan kontribusi EBITDA dari Proyek AIM Nickel, mentransisi MDKA ke fase profitabilitas 2026.

JAKARTA · Sunday, 21 December 2025 18:00 WITA · Dibaca: 41
**Saham Pemilik Tambang Nikel dan Emas Besar Diramal Naik 61%, Intip Proyeksi Kinerja MDKA**

JAKARTA, JClarity – Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), emiten yang menaungi proyek-proyek tambang nikel dan emas berskala besar, diramalkan memiliki potensi kenaikan signifikan hingga 61% seiring dengan proyeksi perbaikan kinerja keuangan yang akan didorong oleh beroperasinya sejumlah aset strategis. Kinerja MDKA pada tahun fiskal 2026 mendatang diperkirakan akan membaik drastis, mentransisikan perusahaan dari fase pembangunan ke fase produksi penuh di sejumlah lini bisnis utamanya.

Meskipun MDKA masih mencatatkan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 35 juta hingga September 2025, hal ini sejalan dengan pandangan analis yang menyebut tahun 2025 sebagai tahun transisi. Namun, indikator fundamental lain menunjukkan tren positif, di mana EBITDA (Laba Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) perusahaan melonjak hingga 64% secara tahunan (YoY) pada Kuartal III-2025. Peningkatan ini didorong oleh membaiknya kinerja dari bisnis emas dan nikel yang terintegrasi.

Salah satu katalis utama yang menopang optimisme pasar adalah kemajuan signifikan pada Proyek Emas Pani (Pani Gold Project/PGP) di Gorontalo, yang diproyeksikan menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia. Operasi heap leach proyek ini dijadwalkan akan memulai commissioning pada Kuartal IV-2025, dengan penuangan emas perdana diperkirakan terjadi pada Kuartal I-2026. Kontribusi dari Proyek Emas Pani ini ditargetkan mencapai 80 ribu ons emas pada tahun 2026.

Di sektor hilirisasi nikel, melalui anak usahanya PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), MDKA akan mendapatkan dorongan pendapatan dari beberapa proyek. Proyek AIM (Acid, Iron, Metal) di Morowali, Sulawesi Tengah, yang mulai beroperasi pada Semester II-2025, diperkirakan akan menyumbang tambahan EBITDA sekitar US$ 30 juta. Selain itu, proyek smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) SLNC yang merupakan bagian dari rantai pasok baterai kendaraan listrik, juga tetap pada jalur rencana commissioning pada Semester II-2026.

Untuk jangka menengah hingga panjang, MDKA juga terus mengurangi risiko pada Proyek Tembaga Tujuh Bukit (TB Copper Project) di Banyuwangi. Kapasitas cadangan bijih untuk operasi tambang bawah tanah (metode SLC) ditingkatkan dari 4 juta ton menjadi 6 juta ton per tahun (6Mtpa), dengan studi prakelayakan terbaru diundur ke Semester II-2025. Proyek tembaga ini, bersama dengan emas dan nikel, diharapkan menjadi pendorong prospek perusahaan di masa depan.

Dengan beroperasinya aset-aset strategis tersebut, analis memproyeksikan MDKA akan mampu mencetak laba bersih sebesar US$ 87 juta pada tahun 2026, membalikkan estimasi kerugian di tahun 2025. Pendapatan (revenue) perseroan juga diramalkan melonjak menjadi US$ 2,4 miliar. Sejumlah institusi sekuritas mempertahankan rekomendasi 'Beli' untuk saham MDKA, dengan target harga rata-rata analis mencapai Rp 3.284,98, sebuah level yang mendukung narasi potensi kenaikan yang signifikan.

Login IG