TNI dan Unhan Ciptakan Alat Penjernih Air Berbasis *Reverse Osmosis* untuk Penanganan Bencana di Sumatra
TNI dan Unhan RI membentuk Satgas Teknologi Penjernihan Air berbasis Reverse Osmosis untuk menangani krisis air bersih di Aceh, Sumut, dan Sumbar pasca-bencana.
JAKARTA, JClarity – Tentara Nasional Indonesia (TNI) bekerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menangani krisis air bersih di wilayah terdampak bencana alam, khususnya di Sumatra. Satgas ini fokus pada pengembangan dan penerapan teknologi penjernihan air berbasis *Reverse Osmosis* (RO) yang siap disebar ke sejumlah lokasi bencana, termasuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Pembentukan Satgas Pengembangan dan Penerapan Teknologi Penjernihan Air ini merupakan respons cepat terhadap kebutuhan mendesak masyarakat yang kesulitan mendapatkan akses air minum dan sanitasi pasca-bencana. Alat *water treatment* berbasis RO yang dikembangkan diklaim memiliki kemampuan produksi yang signifikan, yakni menghasilkan hingga 20.000 liter air bersih per hari untuk keperluan sanitasi, serta 4.000 hingga 5.000 liter air yang sudah layak konsumsi atau siap minum.
Sistem penjernihan air ini dirancang khusus untuk menghadapi kondisi darurat, menggunakan tabung filtrasi berbahan *Fiber Reinforced Plastic* (FRP) dengan lapisan media penyaring seperti *manganese ferrolite*, zeolit, karbon aktif, dan silika. Setelah melalui proses filtrasi awal, air diproses lebih lanjut dengan teknologi *reverse osmosis* dan penyinaran *ultraviolet* (UV). Tahapan ini penting untuk memastikan air bebas dari garam terlarut, kontaminan mikro, serta bakteri dan virus berbahaya yang sering muncul di lokasi banjir.
Satgas Air ini dikoordinatori oleh Kolonel Inf Musthofa dan diketuai oleh Diyan Parwatiningtyas, seorang dosen Program Studi Fisika FMIPA Unhan RI. Tim yang terlibat merupakan kolaborasi lintas disiplin, melibatkan dosen dan kadet dari program studi Rekayasa Sumber Daya Air, Fisika, hingga Teknik Sipil Unhan RI. Musthofa menyatakan bahwa alat *water treatment reverse osmosis* ini akan segera disebarkan ke titik-titik lokasi bencana di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Dengan biaya produksi setiap unit diperkirakan antara Rp65 juta hingga Rp70 juta, teknologi ini dinilai efisien dan efektif untuk mendukung masa tanggap darurat bencana. Kehadiran Satgas dan alat penjernih air ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan air bersih, menekan risiko penyakit akibat air tercemar, dan mempercepat proses pemulihan wilayah yang terdampak bencana secara berkelanjutan.