Saham

TERKINI: Saham Teknologi ANJLOK Tajam, Investor Khawatir Prospek Pendapatan Kuartal IV 2025.

Saham teknologi anjlok tajam di pasar global dan domestik. Investor khawatir prospek pendapatan Kuartal IV 2025 akibat panduan konservatif dan tekanan makroekonomi.

JAKARTA · Tuesday, 04 November 2025 11:00 WITA · Dibaca: 48
TERKINI: Saham Teknologi ANJLOK Tajam, Investor Khawatir Prospek Pendapatan Kuartal IV 2025.

JAKARTA, JClarity – Saham-saham sektor teknologi, baik di bursa global maupun domestik, mengalami tekanan jual yang masif pada sesi perdagangan hari ini, menyusul kekhawatiran yang meluas di kalangan investor mengenai prospek pendapatan kuartal IV (Q4) tahun 2025. Indeks teknologi utama, seperti Nasdaq Composite di Amerika Serikat dan indeks sektoral teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI), mencatat koreksi tajam, menandai hari terburuk bagi sektor ini dalam beberapa bulan terakhir.

Sentimen negatif ini dipicu oleh rilis panduan (guidance) pendapatan Q4 2025 yang cenderung konservatif dari beberapa perusahaan teknologi raksasa global. Kekhawatiran utama terfokus pada potensi perlambatan belanja konsumen dan korporasi akibat faktor makroekonomi yang menekan, termasuk tren suku bunga acuan yang masih tinggi dan tekanan inflasi yang persisten di pasar-pasar utama.

Analis pasar menyoroti bahwa Q4, yang secara tradisional merupakan periode belanja terbesar karena liburan akhir tahun, kini dibayangi oleh ketidakpastian daya beli. Data penjualan terbaru mengindikasikan bahwa konsumen mulai menahan diri dalam pengeluaran diskresioner, terutama untuk perangkat keras (hardware) dan layanan teknologi premium, yang secara langsung memengaruhi margin keuntungan perusahaan teknologi.

Dampak koreksi ini turut menjalar ke pasar domestik. Sejumlah saham teknologi besar yang terdaftar di BEI, termasuk perusahaan berbasis digital dan e-commerce, terperosok ke zona merah. Investor tampak melakukan aksi sell-off antisipatif, khawatir bahwa perlambatan pertumbuhan global dan kompetisi yang semakin ketat akan memengaruhi valuasi dan kemampuan monetisasi di pasar Asia Tenggara.

Muhammad Syarif, Kepala Riset di Capitalindo Sekuritas, berpendapat bahwa penurunan harga saham ini merupakan respons pasar yang didorong oleh sikap risk-off. "Meskipun fundamental jangka panjang sektor teknologi tetap menjanjikan, pasar saat ini memprioritaskan faktor makroekonomi jangka pendek. Kekhawatiran akan terjadinya potensi 'miss' dari ekspektasi pendapatan Q4 telah memicu penyesuaian harga saham secara agresif," ujarnya.

Investor dan pelaku pasar kini menanti dengan cermat laporan keuangan kuartal III (Q3) 2025 yang akan segera dirilis dalam beberapa pekan mendatang, serta komentar manajemen terkait strategi mitigasi risiko. Konsolidasi harga di sektor teknologi diperkirakan akan terus berlanjut hingga ada sinyal yang lebih jelas mengenai stabilitas ekonomi makro dan potensi pemulihan belanja teknologi pada awal tahun 2026.

Login IG