Starlink Gandeng Samsung Bikin Teknologi Internetan Tanpa Menara Seluler.
Starlink dan Samsung bekerja sama mengembangkan teknologi Direct to Cell (DTC) yang memungkinkan HP terhubung langsung ke satelit tanpa menara seluler, didukung chip modem AI Samsung.
JAKARTA, JClarity – Revolusi konektivitas global memasuki babak baru setelah Starlink, layanan internet satelit milik SpaceX, dikabarkan tengah mempererat kerja sama dengan raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung, untuk mengembangkan teknologi "Direct to Cell" (DTC) yang memungkinkan perangkat seluler terhubung langsung ke satelit tanpa memerlukan menara BTS tradisional. Inisiatif ini digadang-gadang akan menjadi solusi untuk mengatasi "zona tanpa sinyal" di seluruh dunia, termasuk wilayah terpencil di Indonesia.
Kerja sama strategis ini berfokus pada pengembangan komponen kunci dalam rantai pasokan jaringan non-terestrial generasi mendatang. Samsung Electronics melalui unit System LSI-nya dilaporkan sedang menggarap chip modem canggih berbasis kecerdasan buatan (AI), yaitu modem Exynos yang terintegrasi dengan unit pemrosesan neural (NPU). Chip ini dirancang khusus untuk memfasilitasi koneksi langsung antara satelit orbit rendah bumi (LEO) Starlink dengan perangkat konsumen biasa, membuka jalan bagi jaringan 6G non-terestrial (NTN) SpaceX.
Teknologi Direct to Cell (DTC) Starlink bekerja dengan memanfaatkan satelit yang dilengkapi modem eNodeB canggih, yang berfungsi layaknya "menara seluler di ruang angkasa". Keunggulan utamanya adalah kompatibilitas dengan ponsel 4G/LTE yang sudah ada di pasaran, termasuk seri Samsung Galaxy, tanpa perlu modifikasi perangkat keras, firmware, atau aplikasi khusus. Pada tahap awal, layanan ini sudah mulai menyediakan konektivitas SMS dan dijadwalkan untuk menyusul dengan layanan suara, data, dan koneksi Internet of Things (IoT) secara penuh pada tahun 2025.
Meskipun uji coba dan peluncuran layanan ini awalnya dilakukan melalui kemitraan dengan operator seluler di Amerika Serikat, ambisi Starlink adalah ekspansi global. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, teknologi ini dianggap revolusioner karena berpotensi mengisi blank spot di ribuan pulau dan menjadi solusi komunikasi vital saat terjadi bencana alam, di mana infrastruktur BTS terestrial seringkali terganggu.
Pengamat industri menilai kolaborasi antara kemampuan manufaktur komponen semikonduktor Samsung dan dominasi Starlink di pasar satelit LEO akan menciptakan sinergi yang dapat mempercepat adopsi internet satelit secara massal ke ponsel pengguna. Dengan demikian, visi konektivitas universal, di mana setiap titik di darat, danau, atau perairan pesisir dapat terhubung, semakin mendekati kenyataan.