Setelah Era ChatGPT dan GenAI, Kini Muncul Fase Baru Bernama Agentic AI.
Fase baru AI muncul setelah ChatGPT dan GenAI, dikenal sebagai Agentic AI. Sistem ini mampu merencanakan, bertindak, dan beriterasi mandiri untuk tujuan kompleks.
Jakarta, JClarity – Dunia kecerdasan buatan (AI) kembali memasuki babak evolusi signifikan. Setelah euforia masif yang dipicu oleh model bahasa besar generatif (GenAI) seperti ChatGPT dan gelombang inovasi sejenis, fokus industri kini bergeser menuju sebuah paradigma baru yang disebut Agentic AI, atau Kecerdasan Buatan Keagenan.
Pergeseran ini menandai transisi penting dari sistem AI yang pasif dan hanya merespons perintah (responders) menjadi entitas AI yang aktif, mampu merencanakan, bertindak, dan beriterasi secara mandiri untuk mencapai tujuan yang kompleks. Agentic AI memanfaatkan inti pemikiran yang kuat dari GenAI—terutama Large Language Models (LLMs)—tetapi menambahkan komponen krusial: kemampuan untuk melaksanakan serangkaian tindakan (agency).
Menurut para peneliti teknologi, inti dari Agentic AI terletak pada empat pilar utama: *Perencanaan* (kemampuan memecah tugas kompleks menjadi langkah-langkah kecil), *Memori* (menyimpan konteks interaksi jangka pendek dan panjang), *Penggunaan Alat* (kemampuan untuk berinteraksi dengan API, basis data, atau lingkungan eksternal lainnya), dan *Iterasi* (kemampuan untuk mengevaluasi hasil dan mengoreksi tindakan hingga tugas selesai). Dengan kapabilitas ini, agen AI dapat bertindak sebagai asisten otonom penuh, misalnya dalam melakukan riset pasar secara end-to-end, menulis dan mengoreksi kode program, hingga mengelola rantai pasokan.
Kemunculan Agentic AI didorong oleh kemajuan LLMs yang semakin andal dalam penalaran dan ketersediaan kerangka kerja (framework) seperti AutoGen dari Microsoft dan konsep 'agent stacks' yang dikembangkan oleh Google. Beberapa agen khusus di industri, seperti agen pengembang perangkat lunak otonom, telah menunjukkan potensi untuk merevolusi efisiensi tenaga kerja dengan mengambil alih siklus pengembangan dari konseptualisasi hingga deployment, sebuah tugas yang jauh melampaui kemampuan chatbot GenAI konvensional.
Meskipun menjanjikan, fase baru ini juga membawa tantangan teknis dan etika yang serius. Isu 'hallucination' tidak lagi hanya tentang jawaban yang salah, melainkan tentang tindakan yang salah yang dilakukan secara mandiri oleh agen. Selain itu, masalah keamanan, akuntabilitas ketika agen membuat kesalahan, dan kebutuhan untuk mekanisme pengawasan yang kuat menjadi krusial. Industri perlu memastikan bahwa otonomi AI sejalan dengan standar keselamatan dan transparansi.
Konsensus di kalangan pemimpin teknologi adalah bahwa Agentic AI akan menjadi fondasi bagi gelombang aplikasi AI tingkat lanjut berikutnya. Dari 'asisten' yang hanya mengetik, kini kita bergerak ke 'rekan kerja' digital yang mampu menjalankan proyek, menandai titik balik penting dalam hubungan manusia dengan kecerdasan buatan di era digital.