Setelah Era ChatGPT dan GenAI, Kini Muncul Fase Baru Bernama Agentic AI
Transformasi kecerdasan buatan memasuki babak baru. Setelah sukses ChatGPT, kini Agentic AI hadir membawa kemampuan otonom untuk menyelesaikan tugas kompleks.
JAKARTA, JClarity – Era transformatif kecerdasan buatan (AI) yang dipicu oleh model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT dan Generative AI (GenAI) kini memasuki evolusi signifikan. Industri teknologi kini mengalihkan fokusnya ke fase yang dikenal sebagai Agentic AI, sebuah konsep yang menjanjikan sistem AI tidak hanya mampu merespons perintah, tetapi juga bertindak secara otonom dan proaktif untuk mencapai tujuan yang kompleks.
Agentic AI, atau Kecerdasan Buatan Agentik, didefinisikan sebagai sistem yang memiliki kemampuan untuk merencanakan serangkaian tindakan, melaksanakan rencana tersebut, dan merefleksikan hasilnya secara mandiri, tanpa intervensi manusia terus-menerus. Ini merupakan lompatan fundamental dari GenAI yang cenderung reaktif dan berfokus pada penciptaan konten (teks, gambar, kode) berdasarkan input spesifik pengguna. Jika GenAI adalah 'Creative Powerhouse' yang menghasilkan konten, Agentic AI adalah 'Autonomous Problem-Solver' yang menciptakan hasil akhir.
Sistem Agentic AI bekerja dengan memecah tujuan besar yang diberikan pengguna menjadi serangkaian subtugas, memilih alat atau API yang tepat, membuat keputusan sendiri, dan menyesuaikan strateginya berdasarkan kondisi yang berkembang atau data waktu nyata. Kemampuan seperti penetapan tujuan (*goal-setting*), pengambilan keputusan (*decision-making*), dan koreksi diri (*self-correction*) inilah yang memberikan sistem ini 'agency' atau keagenan.
Penerapan teknologi ini telah mulai merambah sektor bisnis untuk otomatisasi alur kerja (workflow automation) dan manajemen proses yang kompleks, seperti mengoptimalkan operasi rantai pasokan, mengatur ribuan robot gudang secara terkoordinasi, hingga menjadi asisten penjualan yang secara otonom dapat menghubungi prospek dan memperbarui laporan CRM. Di Indonesia, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria bahkan menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam dinamika Agentic AI ini dan harus berupaya mengantisipasi dengan menyusun peta jalan dan regulasi.
Meskipun potensi Agentic AI dalam menciptakan efisiensi yang masif sangat besar, tantangan terkait keamanan, etika, dan keandalan tetap menjadi fokus utama. Otonomi penuh yang dimiliki agen memunculkan kekhawatiran tentang risiko tindakan tak terduga dan perlunya pengawasan yang ketat. Selain itu, Indonesia menghadapi tantangan dalam ketersediaan talenta dan proses integrasi sistem yang dibutuhkan untuk mengadopsi teknologi otonom ini secara optimal. Namun, sinergi antara kemampuan Generative AI untuk berkomunikasi dan Agentic AI untuk bertindak dipercaya akan mendefinisikan gelombang komputasi berikutnya.