Saham

Sentimen *Year-End Rally* Meredup? IHSG Ditutup Ambles 1,5% Ditekan Aksi Jual Asing di Sektor Perbankan Jumbo

IHSG ambles 1,5% (104 poin) ke 6.895,30, tertekan aksi jual bersih asing mencapai Rp 1,2 triliun. Saham perbankan jumbo BBCA dan BBRI jadi sasaran utama. Sentimen Year-End Rally meredup.

Jakarta · Tuesday, 25 November 2025 04:00 WITA · Dibaca: 28
Sentimen *Year-End Rally* Meredup? IHSG Ditutup Ambles 1,5% Ditekan Aksi Jual Asing di Sektor Perbankan Jumbo

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari [Tanggal yang disimulasikan, misal: Jumat (22/11/2025)] dengan kinerja mengecewakan. Sentimen *Year-End Rally* (YERR) yang diharapkan investor seolah meredup, setelah indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ambles tajam hingga 1,51%, ditekan oleh aksi jual masif (net sell) investor asing, terutama di saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar jumbo (big caps).

IHSG resmi ditutup pada level 6.895,30, kehilangan 104,80 poin. Penurunan ini memutus tren positif dalam beberapa pekan terakhir dan menjadi koreksi harian terdalam dalam sebulan terakhir. Nilai transaksi tercatat cukup ramai, mencapai Rp 14,3 triliun, didorong oleh tekanan jual yang terpusat. Investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) yang signifikan mencapai sekitar Rp 1,2 triliun di seluruh pasar.

Tekanan terbesar datang dari empat bank terbesar (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) yang secara kolektif memiliki bobot besar di IHSG. Saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi target utama aksi jual asing, dengan masing-masing anjlok lebih dari 2,5%. Koreksi di sektor perbankan ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor global yang mulai merealisasikan keuntungan (profit taking) setelah saham-saham tersebut mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang bulan sebelumnya.

Analis JClarity mencermati, meredupnya sentimen YERR dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global. Dari sisi global, kekhawatiran terkait potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed AS yang lebih lama dari perkiraan (higher for longer) kembali mencuat. Sementara dari domestik, pelaku pasar mulai mengantisipasi rilis data inflasi dan potensi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) ke depan, yang dapat memengaruhi likuiditas dan biaya modal perbankan.

“Koreksi hari ini murni didorong oleh *net sell* di saham *big caps*, yang menunjukkan adanya pergeseran fokus investor dari momentum akhir tahun ke fundamental makro yang lebih konservatif. Level 6.880 kini menjadi level *support* psikologis yang penting untuk dipertahankan agar tidak terjadi koreksi lebih dalam menuju 6.800,” ujar [Nama Analis/Institusi - dihilangkan untuk konteks simulasi]. Investor disarankan untuk mencermati sentimen global, terutama pergerakan imbal hasil obligasi AS (US Treasury yields), yang kini menjadi katalis utama aliran modal asing di pasar negara berkembang.

Login IG