Saham

Sentimen The Fed Mereda, IHSG Pagi Ini Langsung Tembus Resistance 7.250: Saham Big Cap Kembali Jadi Motor Penggerak.

IHSG melompat menembus resistance 7.250 pagi ini dipicu sentimen dovish The Fed dan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Saham big cap kembali jadi penguat indeks.

Jakarta · Sunday, 02 November 2025 11:00 WITA · Dibaca: 54
Sentimen The Fed Mereda, IHSG Pagi Ini Langsung Tembus Resistance 7.250: Saham Big Cap Kembali Jadi Motor Penggerak.

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai pekan pertama November 2025 dengan kinerja impresif. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, IHSG langsung melompat signifikan, menembus level resistensi psikologis 7.250 di tengah meredanya sentimen kebijakan moneter ketat dari The Federal Reserve (The Fed).

Mengacu pada data BEI, pada sesi pembukaan (Senin, 3 November 2025), IHSG bergerak menguat tajam, menambahkan momentum dari optimisme global yang dipicu oleh sinyal dovish dari bank sentral Amerika Serikat. Optimisme ini muncul setelah sinyal pemangkasan suku bunga acuan The Fed semakin menguat, menyusul data inflasi AS yang mereda dan pasar tenaga kerja yang menunjukkan perlambatan. Pelaku pasar global bahkan memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga acuan ke kisaran 3,75%-4% pada pertemuan mendatang, level terendah sejak Desember 2022.

Kenaikan IHSG ini secara jelas kembali didorong oleh performa saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) atau blue chip. Saham-saham dari sektor perbankan, telekomunikasi, dan energi yang memiliki bobot signifikan dalam indeks komposit, kembali menjadi motor penggerak utama. Sentimen positif dari Amerika Serikat ini menjadi katalis kuat, terutama bagi saham-saham perbankan big cap, yang sebelumnya sempat tertekan. Lonjakan harga saham-saham tersebut dengan cepat mengerek IHSG kembali ke teritori positif setelah sempat mengalami konsolidasi di akhir pekan sebelumnya.

Analis pasar modal dari JClarity Research, Mira Sanjaya, menjelaskan bahwa pergerakan ini menandakan adanya rotasi dana investor kembali masuk ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. “Kepastian yang lebih besar mengenai puncak suku bunga The Fed dan potensi pemangkasan ke depan membuat risiko investasi di pasar saham Indonesia berkurang drastis. Dana asing yang sebelumnya cenderung ‘wait and see’ kini mulai berani masuk, khususnya menyasar saham-saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi seperti perbankan BUMN dan emiten teknologi besar,” ujar Mira.

Selain sentimen global, pasar domestik juga masih menanti rilis data makroekonomi penting seperti inflasi Oktober dan neraca dagang September yang diperkirakan akan tetap menunjukkan surplus. Stabilitas fundamental ekonomi Indonesia ini menjadi bantalan tambahan bagi pergerakan IHSG. Dengan momentum yang tercipta di awal pekan ini, IHSG diperkirakan memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, dengan target resistensi selanjutnya berada di kisaran level 8.280, didukung oleh prospek window dressing di akhir tahun.

Login IG