Saham Raja Nikel Mau Meledak, Siap-siap Cuan 40%
Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diprediksi cuan 40% didorong rencana moratorium investasi nikel oleh Pemerintah RI untuk mengendalikan surplus pasokan global.
JAKARTA, JClarity – Prospek saham emiten nikel kembali menyita perhatian investor di penghujung tahun 2025. Saham 'Raja Nikel' PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan yang dikenal dengan cadangan nikel terbesarnya, diprediksi akan 'meledak' dan berpotensi memberikan keuntungan (cuan) hingga 40% bagi pemegang saham.
Prediksi optimistis ini muncul dari hasil riset Yuanta Sekuritas yang terbit pada Minggu, 14 Desember 2025. Analis menilai, meskipun saham MBMA sempat kehilangan taji di tengah rekor tertinggi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai kisaran 8.700, potensi kenaikan harga saham didukung oleh intervensi kebijakan strategis dari pemerintah Indonesia.
Katalis utama yang mendorong proyeksi kenaikan signifikan ini adalah rencana kebijakan moratorium investasi nikel yang tengah digodok oleh pemerintah. Moratorium ini mencakup pembatasan investasi pada nickel pig iron (NPI), produk nikel kelas 2 lainnya, mixed hydroxide precipitate (MHP), dan nickel matte, sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk nikel dalam negeri.
Yuanta Sekuritas menjelaskan, meskipun kebijakan ini tidak akan langsung mengerek harga nikel global dalam jangka pendek—karena smelter yang masih dalam tahap konstruksi dikecualikan—namun dalam jangka panjang, pengetatan investasi smelter merupakan langkah krusial untuk mengendalikan surplus pasokan nikel di pasar dunia.
Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak harga nikel, terutama produk MHP, yang merupakan material prekursor vital untuk baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Selain moratorium, kebijakan pembatasan produksi bijih nikel juga diperkirakan akan menjaga harga bijih nikel tetap premium, berpotensi mencapai US$ 20 per ton, yang tentu akan berdampak positif pada profitabilitas emiten seperti MBMA.
Selain MBMA, sentimen positif ini juga diperkirakan akan menyentuh emiten nikel besar lainnya. Analis melihat fundamental perusahaan-perusahaan nikel terkemuka, seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), juga akan semakin solid berkat upaya hilirisasi yang konsisten dan dukungan penuh dari pemerintah.
Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas global, komitmen Indonesia sebagai 'OPEC-nya Nikel' dengan cadangan terbesar di dunia, semakin mempertegas peran strategisnya dalam rantai pasok baterai global. Kebijakan pembatasan pasokan dan hilirisasi yang berkelanjutan menjadi jaminan bagi investor terhadap prospek sektor nikel Indonesia di masa depan.